Semenjana Yang Seketika – oleh Olga Koswanurfan Dianka

Ada mata mengendap-endap di antara celah dinding, ada kata-kata yang menyelinap di balik gerah kening. Aku adalah susunan aksara yang menanti terbaca, kau sepasang indra yang hendak kuselak dengan sayap-sayap bahasa. Tak perlu titik, kutip, ataupun koma. Diriku gemar menggelandangmu ke palung himpunan enigma, seperti halnya kerlipanmu yang selalu memancangku pada gelung ribuan pertanda. Semenjana […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Dialektika Mata, serta Kata – oleh Olga Koswanurfan Dianka

Ada mata mengendap-endap di antara celah dinding, ada kata-kata yang tanpa sengaja tersirap dari balik gerah kening. Aku susunan aksara yang menanti terbaca, kau sepasang indra yang hendak kuselak dengan sayap-sayap bahasa. Tak perlu titik, kutip, atau koma. Diriku gemar menggelandangmu ke palung enigma, seperti juga bening kerlipanmu yang selalu memancangku pada gelung pertanda. Dialektika […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Semenjana Yang Seketika – oleh Olga Koswanurfan Dianka

Ada mata mengendap-endap di antara celah dinding, ada kata-kata yang tak sengaja tersirap di balik kerut kening. Aku adalah susunan aksara yang menanti terbaca, kau sepasang indra yang hendak kuselak dengan sayap-sayap bahasa. Tidak perlu titik, kutip, ataupun koma. Diriku gemar menggelandangmu ke palung himpunan enigma, seperti halnya kerlipanmu yang selalu memancangku pada gelung ribuan […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Metafora Awal Kembara (Sepilihan Larik dari Puisi-Puisi Penyair Indonesia Eksil)

Melempar pandang, dan tangan menggapai, aku ayunkan langkah menuju utara. Burung melayang bebas tiada gundah, dan musim gugur menghias wajah tanah rendah. Aku tertegun pada bumi ini, aku menengadah menatap jauh, senja terdampar di langit biru, padaku permulaan dari yang baru. Kutinggalkan kau ketika embun menentang matahari pagi, kugenggam segumpal harapan di balik kenangan tahun-tahun […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Parafrasa Dalam Sebuah Fragmen – oleh Olga Koswanurfan Dianka

Aku melihat pelangi melengkung di bibirmu, merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, pun halnya ungu seolah berbaris merangkai sebentuk senyuman lugu. Seulas senyum yang teramat rawan, menyita perhatian tetapi juga memantik kehati-hatian. Pendar memancar begitu tajam, sungguh mematikan, melampaui setapak kelokan terjal yang menyisir gigir pegunungan. Aku mendengar alunan tembang seorang ibu yang tengah menimang […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Violet – oleh Olga Koswanurfan Dianka

Pergi! Wujudkan seperti apa yang engkau cari, jika suatu hari pikiranmu menginginkan semua terulang kembali, coba tolehkan kedua mata tepat ke salah satu sisi bumi yang telah mengajarkanmu tentang arti terlindungi, sebab di sana aku masih tegar berdiri, satu tumpuan yang serupa seperti pertama kali kisah ini bersemi, saat kita saling menanti, memberi, juga melapangkan […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Setidaknya – oleh Olga Koswanurfan Dianka

Setidaknya pesan-pesan tulusku pernah membahana ke udara, meski gendang telingamu menangkapnya hanya sebagai gema samar di ruang hampa. Setidaknya jerih-payahku pernah terlihat berharga, namun kini gulir sang waktu telah membuktikan, bila segalanya harus berakhir sia-sia. Setidaknya tak sekalipun hatiku berkata tidak, walau engkau selalu membubuhkan kata itu, pada awal, serta akhir kisah kita. Setidaknya – […]
Baca puisi selengkapnya…