Gelombang Waktu – oleh Nurdiansyah

Aku melihat ssok ku luntur dalàm matamu, bak mawar layu dalam penjara, aku dan kalah adalah sahabat, itu di matamu. Kau slalu unggul itu opini mu. Aku tau yang membuatku luntur adalah waktu dan mental. Aku tau karna pernah terseret gelombang waktu yang menyertku ke blakang, namun mentalku tak patah. Sekarng aku melihat waktu mebawamu […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Suatu malam – oleh Murni

suatu peristiwa terjadi malam ini peristiwa yang terlalu pahit tuk kukabarkan malam panjang tak terhenti malam penuh luka batin andaikan aku bisa memutar waktu agar hal ii tak terjadi tapi ini adalah takdir tuhan takdir yang tak dapat diubah diantara tangisan dan sejuta duka timbul dalam benak yang sebelumnya tak pernah terpikir malam ini……… seorang […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Kau yang takkan ku miliki – oleh Andre

aku tak bisa membayangkan dunia ini tanpa dirimu laksana jiwa tanpa raga aku selalu memandangi mu meski kau tak pernah tahu kau seperti udara yang selalu ada di dalam nafasku walaupun kita tidak pernah lagi bertemu denganmu wajahmu akan selalu aku simpan di dalam hatiku mungkin engkau bukan wanita pertama yang aku temui tapi kau […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Perjuangan sia-sia – oleh Karomah

Lelah kai melangkah hati membeku tiada arti kering mata tiada sisa mencoba bangkit kesekian kali Aku disini berjuang sendiri dan kau disana menatap dengan tawa membiarkan aku tertatih tiada harga kau, tak biskah hargai aku secuil perjuanganku hargai hatiku hanya senyap dan kepahitan yang kau tawarkan tapi aku tetap berjuang Perjuangan sia-sia – oleh Karomah […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Harapan yg patah – oleh Winda

setiap kali tubuh ini berdiri ada saja badai ada saja angi,hempasan demi hempasan tepisan demi tepisan dan tangis-tangis malam apa q tak pantas bahagia tuhan..…! apa q hayalah goresan luka bagi orang2 tak pantaskah q hidup tuhan….! tak pantaskah q memohon pada mu sperti manusia pda umumnya q butuh bahagia tuhan q mohon q mulai […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Rapuh – oleh a.n Fatikha

hari ini masih sama mata itu enggan terbuka seakan lupa cara terbangun seolah tak mau lagi melihat karena ia tahu… hidupnya hanyalah tempat para pencela berpijak tempat para penghianat bertindak mungkin mata itu t’lah lelah karena selalu berderai air mata sekarang tak ada lagi senyuman mungkin ia lelah dengan segala kepalsuan dan memilih hidup dalam […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Stigma Yang Kalian Ciptakan – oleh Rahimatus Sania

Aku terpenjara atas pandangan dari orang lain Ku mohon berhenti menatap ku dengan tatapan begitu Mari berkenalan jika diperlukan Mari saling berbincang jika kau masih ingin menilai ku Mari kita keluar sesekali dan bermain untuk menghindari kesalah pahaman Kamu tak bisa melihat ku Karena itu hanya tutup mulut mu Dan keluarkan aku dari stigma ini […]
Baca puisi selengkapnya…