Memilih Sendiri – oleh Rini Vian

Tanpa disadari,tangan ini sudah mulai merentang tidak memeluk lagi Tanpa diduga,mata ini terpicing sudah tidak menatap lagi Tanpa disangka,bayang ini sendiri sudah tak berdua lagi. Menghitung-hitung Mengingat-ngingat Merenung-renung Dimana salahku,ada apa dengan sikapku? Ku bawa berdiri,tetap saja merasakan luka Ku bawa duduk,tetap saja merasakan perih Ku bawa berbaring,jauh lebih sakit. Satu,dua,tiga hari satu,dua,tiga tahun Aku […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Rintihan hati – oleh Megawati

Detik,menit,jam,hari,minggu,bulan bahkan tahun sudah aku lewati Tanpa ada satu kepastian pun aku dapati kapan belahan hatiku pulang? Terkadang aku ingin menyerah pada keadaan yang seolah tiap detik mempermainkan nasibku mentertawakan hidupku Aku lelah berjalan diatas permainan hidup ini karena aku disin sendiri Ya….tuhan…..kemana harus aku langkahkan kakiku ini? Aki lelah,aku bingung,aku bosan bahkan aku jenuh […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Labirin Yang Menahan – oleh Fadya Putri

Mawar tumbuh diantara melati indah.. merekah.. namun salah. Bagai parasit yang harus dibasmi bukan tempat untuk tumbuh, apalagi bersemayam. Seperti itulah rasa yang kupendam Tumbuh secara diam diam Ditengah labirin pertemanan. mencoba menghilangkan, namun akar tumbuh semakin dalam. Kenyamanan menuntun kearah yang parah Meninggalkanku bersama jiwa yang resah. Terbalas olehmu seperti permintaan yang serakah apalagi […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Senja tak berwarna – oleh Linda Ristiani

senja bangunkan aku dalam mimpi setiap rintik yang datang tanpa permisi seakan cahaya tertelan atas keheningan bunga bunga telah mati tak jua dengan hati rindu hanya tentang perjalanan panjang pelangi hanya sebuah ilusi retak tak akan kembali memikat kau tak lagi sama senja tak lagi berwarna hati telah pergi cinta tak lagi dinanti masihkah kau […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Pagi yang dirindukan – oleh Rizki Ramadhan

Pagi yang dirindukan Alam yang basah, rumput berkedip malu malu Oh maaf itu embun, meminta ampun, seperti biasanya . . Padahal tersenyum Murni anginnya, menghirup pun tak tega, rasanya . Rebahkanlah dulu daun itu biarkan dia Asa di buai serasa melambai bernafas dengan santai biarkan semua lalu lalai Di genggam seorang pemuda harapan Bukan tanpa […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Balaslah Perasaanku – oleh Rini Vian

Mengintai matamu yang sendu Menghirup aroma tubuhmu Mengalahkan cerita yang berseteru dengan debu Aku,demi Tuhan mencintaimu Seakan ada sebuah cerita,ada cerita mengandung masa yang mendatang Tentang aku yang terus dan terus mencintaimu Yang berani berkorban,ntah itu darah,nyawa,atau pun raga Ya hanya itu Sungguh,apa yang dapat kupertarungkan lagi demi hal ini Demi membuatmu mengerti betapa aku […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Rindu – oleh Annisa wasy-Syifatul Anwar

Berawal dari kesiaan Tumbuhlah penyesalan Raib sudah segelintir kecintaan Penyiaan berbuahkan penyesalan Namun, tersirat kebencian Kebencian nan timbul tenggelam Dapatkah waktu ku putar kembali? Pabila sejak dulu ku sesali akankah ini terjadi? Kala ku dengar angin berberita Remuk rasanya relung jiwa Entah mengapa Kerinduan akan kasih dan sayang tereboisasi kembali Pantaskah sebuah ketulusan berbalas acuh? […]
Baca puisi selengkapnya…