aku dan pintu

wahai pintu…

mengapa engkau selalu tertutup?

mengapa kau tidak membuka saja

dan menampakkan dua buah mata yang kucari

segaris bahu yang ingin kusandari

dan sepasang lengan yang ingin kugenggam?

wahai pintu..

mengapa sikumu terlalu kokoh?

mukamu begitu tebal

dan egomu terlalu tinggi?

mengapa kau tidak tembus pandang

untukku bisa meratapi siapa yang akan

dan tidak akan pernah mendobrakmu

untuk bertemu aku?

wahai pintu…

mengapa engkau dihinggapi rayap sial

yang selalu menjadi penghalang

bagi siapa yang ingin mengetuk dan membuka?

wahai pintu…

mengapa tak ada dia dibalikmu?

__(bahkan tidak ada secangkir kopi pahit di pagi hari darinya untuk Kezia)___

Updated: September 21, 2011 — 12:12 pm

1 Comment

Add a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Puisi © 2015