Juni – oleh Tara Prayoga

Juni selalu memberi makna, mengingatkan kau pernah ada bersama gerimis membawa rentetan dingin, gigil rindu menyertai angin… Sementara, langkah demi langkah tetap kau tempuh semakin lama dirimu menjauh. Aku biarkan kau senantiasa menempuh jalan itu.. Karena mengejarmu, lelah! Hidup terlalu bengis jika terus-menerus meratapi kehilangan. Di sini, aku belajar… Ketabahan satu-satunya alat menahan luka dan […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Melaju – oleh Tara Prayoga

Sorot matamu sebening sungai, mengalir tenang; sesekali berhenti menggenang. Memahami hidup yang tak habis-habisnya dustai mimpi atau ribuan janji. Detik jarum jam masih dan masih menandai; melaju bukan berarti mundur! di hadapmu kelak orang-orang kan datang membawa seransel masalah untuk diselesaikan. Sementara hidup makin membosankan. Lagu-lagu tentang bahagia, sajak-sajak asmara; memilih bungkam terhenyak tenggelam.. Menghilang […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Pengharapan Pengabaian – oleh Tara Prayoga

Sambil mengabaikan pesan, gerangan kau membalas kiriman dari lainnya. Inbox dariku usang tersingkir nama seorang yang kau panggil, “sayang”. Menunggu dan menunggu adalah kerjaanku sekarang. Setiap dentang jarum jam, berharap ponsel berdering balasmu. Tapi apa? Senyap masih terkunyah bunyi jangkrik pekarangan. Kau (tetap) tidak peduli memendam benci. Di sini, di bawah purnama, kiranya aku hanyalah […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Memahami – oleh Tara Prayoga

Pulanglah ketika rindu menghantam, sekuat mungkin menahan, lara tetap mendalam biar raga nampak tegar, kepiluan takkan pudar. Aku mengerti betapa kau tersakiti ;oleh jarak Lautan memisahkan gunung-gunung meretakkan sementara jiwa kita lemah melepaskan rantai jarak yang memasung kerinduan.. Sungguh, hanya pertemuan yang bisa menyelamatkan… Kita bukan apa-apa, kita tak berdaya. Kumohon pulang… pulanglah, Na… Hatiku […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Na – oleh Tara Prayoga

Padahal rinai hujan mengingatkan pertemuan musim lalu berhias kesederhanaan. Betapa lepas hati kita resapi segala ada sebelum tiada. Luapkan rindu berkecamuk sekian lama memahami erat pelukan nyawa. Hanya aku, kau di sini; kunang-kunang benderang puri. Nyala agung warnai pijak rerumputan kita menopang. Hapuslah… Hapuslah air matamu, Na. Kesudahan ini, tak kubiar napasmu pergi! Waktu ke […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Puisi Kita – oleh Tara Prayoga

Aku rindu berpuisi denganmu, sayang… Membahas sajak yang tiada habisnya mengisi waktu-waktu kita Menyusun kembang melati di bawah bintang malam atau merangkai bunga di selip telingamu, kala kau eja puisi padaku.. Kini, puisi menjadi bait abadi yang kubaca tiap malam di persemayamanmu.. Aku percaya kau dengar kata ke kata tersusun syahdu untukmu.. Hanya untukmu… . […]
Baca puisi selengkapnya…

 

ANA (Aku Nelangsa Akhirnya) – oleh Tara Prayoga

Mulai terasa sisa-sisa harap menyapa Kidung nyeri melipat hati bak seonggok limpa Sukma tenggelam mengunyah kesedihan mendalam Siapa tau; aku masih mengharapmu, sayang… Kembali menjamah bunga lampau kita yang dulu mesra di kaki cinta… Sebelumnya, tidak pernah aku meminta Menahan gengsi tersenyum busuk Kehilangan naluri kejujuran pada diri sendiri. Perih menggenapi air mata Kehilanganmu adalah […]
Baca puisi selengkapnya…