Awan pekat sudut kota – oleh Siti Masitoh

Awan biru kini telah berganti Awan pekat yang menghiasi sudut kota ini Terasa melekat di hati Hanya ada angin disini Angin nan kencang menyelimuti Udara dingin disudut kota ini Mulai nyayat hati Hujan pun ikut membasahi seluruh raga ini Hujan berhentilah menangis Mari kita meringis Ikuti lantunan nada nan dinamis Ijinkan ku menggayuh sepeda nan […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Tribun Merah – oleh Siti Masitoh

Dibawah tribun merah Kini ku berteduh Segenap mata memandang menikmati pesonamu nan angkuh Air mata mu terus menghujam Lapisan teratas bumi Kau datang begitu cepat Membuat sepasang mata terpana Kau datang dengan semua pasukan Genderum perang mulai terdengar Asap putih pekat pun mulai berdatangan Suhu panas berganti dingin Hanya tribun merah tempat persembunyianku dari hantaman […]
Baca puisi selengkapnya…