PUTIH – oleh Siha Muflikhah

terbayang senyum indahmu diujung senja nan syahdu saat itu pelangi pengobat rindu tlah mendekap kepiluan di dada namun kini tlah musnah tiada satu senyumpun tampakan mukanya pelangi itu pergi pergi tuk selamanya ketika awan putih selimutinya dengan dua beberapa tali pengikatnya “tidakkk…tak boleh…” teriakku ketika pelangi itu menghilang ditelan tanah yang megah hanya taburan bunga […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Gelap – oleh Siha Muflikhah

cahaya itu menghilang terhalang kabut hitam gelap cinta meragu prinsip pilu alasan larangan orang tua semua musnah seketika sakit dan kecewa membelengguku terpaksa ku terima dengan lapang dada cinta dan prinsip hanya nama saja pada akhirnya duri yang menancap dalam hati haruskah ku menangis? meraung dalam perih ini? jawabnya tidak gelap ada akan tersingkir oleh […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Derita – oleh Siha Muflikhah

Ku tutup telinga Ditengah cakar petir ku pejamkan mata Diantara riuhnya badai sakit… sakit berkumandang mencengkram suasana tenang mengoyak angin nan tentram “Berhenti…!” “Cukup…!” bisikku Bisikku… bisik nan bisu bisik nan tuli bisik nan buta tak satu nafaspun tahu Tubuh tegak berdiri bagai patung tak berarti hanya hujan semu mengalir di tiap lekuk melukiskan jejak […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Akhir Jalan – oleh Siha Muflikhah

Lihat! Tubuh kaku terbaring disana Menyisakan pucat dikulitnya Bercak merah mengering Musnahkan harapan Nyanyian pilu mendekapnya Mata tajam mengiringinya Meringkuk memendam rasa Jalan binasa ia pilih Tajam menikam dipergelangannya Ketika tajam terjatuh Nadipun mengeluh Roh meninggalkan tubuh Berakhir derita fana Kekal dengan keabadian siksa Akhir Jalan – oleh Siha Muflikhah Brebes fb: Siha Muflikhah
Baca puisi selengkapnya…