Bunga Dua Ikat – oleh Rian Sejagat

apa artinya bunga bila yang ku hidangkan adalah hati dan darah, tapi kau inginkan bunga, bagai bayi yang kelaparan, kau berikan ia minum, tak akan berhenti menangis katamu.. andai yang kau lihat lebih dari bunga, bunga dimana2 sama, Siapapun pemberi, pengantarnya, kau bilang bunga tanda serius, kata ayahku, cincin lah tanda serius, yg sedang ku […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Kapal yang Tergantung – oleh Rian Sejagat

pernahkah kau dibangunkan oleh berita? yang membuka mata, mencambuk hati, membentur-benturkan pikiran dan kenangan, lalu menggenang lagi di mata.. inilah aku risau yang tergantung, untuk dilabuhkan kembali, atau ditutup dermaga agar berlayar lagi, temui ombak dan berkelahi, mencoba angkuhnya kapal buatan sendiri, atau disuruhnya aku mendarat di tepian lain. ini, kapal hebat , bung. tenggelam […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Terbiasa berlagu – oleh Rian Sejagat

Terbiasa lagu ini disenandungkan bersama malam, Bersanding denganmu menjelma menjadi selimut tidur.. Kadang sumbang, kebanyakn menghanyutkannya, Selalu kau pinta-pinta irama baru. Bila cerah, kau ingin lagu ceria, penuh puja puji.. Bila mendung, lagu rindu yang kau tuntut,,, Sampai aku hanya bergumam “hmmm” pun harus berima-rima dan bernada-nada… Seperi malam-malam lalu, Aku menggumam mnggetarkan benak, tapi […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Syair dingin – oleh Rian Sejagat

Sekembalinya hati ke haribaan, Ia menuntut pujangga memainkan syairnya, Mendermakan para fakir yang kesedihan dan sendirian Buaian sayang tak berpelabuhan, Akan diterima dari wanita yang membawa keranjang buah manis beracun cinta, Mengapa ia hanya berikan racun, Dingin yang membekukan, Syair pujangga pun tak bersuhu.. Namun, seraya racun harus ditelan, Mungkin ia letakkan manis cinta di […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Jalan ke Ibu – oleh Rian Sejagat

Menghadap aku ke jalanan, Lalu lalang kenangan, Suaranya mendekat lalu menjauh lagi, Tak ada sesuatu yang ku lihat… bahkan bayanganpun bukan. Ini hanya jalanan Ku temukan persimpangan, Untuk kembali ke ibu, atau berlayar jauh ke ujung laut Menemukan bongkahan hati yang mungkin terdampar, Setelah dicampakkan penuh hina. Meminta ibu menjahitkan luka, menyulamnya lagi dengan bunga […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Syair dingin – oleh Rian Sejagat

Sekembalinya hati ke haribaan, Ia menuntut pujangga memainkan syairnya, Mendermakan para fakir yang kesedihan dan sendirian Buaian sayang tak berpelabuhan, Akan diterima dari wanita yang membawa keranjang buah manis beracun cinta, Mengapa ia hanya berikan racun, Dingin yang membekukan, Syair pujangga pun tak bersuhu.. Namun, seraya racun harus ditelan, Mungkin ia letakkan manis cinta di […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Undangan – oleh Rian Sejagat

Akankah aku diundang, Dalam sebuah hari penuh dendang ceria Dimana duduk kau dan nya berikatan Bukan aku minta diundang, Tapi kita pernah berkisah, Yang bila kau melihatku, Masih akan terkenang manis pahitnya, Kau dan aku dulu berkisah Andaikata diundang, Aku datang dari belakang Agar tak tertatap olehmu mataku penuh bara Badanku yg habis dimakan siksa […]
Baca puisi selengkapnya…