Pondok Mama – oleh Muhammad Badrun

Suaramu yang parau seperti rintihan doa-doa pemegang pedang setelah peperangan tertaklukkan. Tuhan adalah hikayat yang diceritakan hujan melalui rintik-rintik dari gerimis petang lalu, meskipun kini terang mayapada. Telinga rasul sebagai utusan tergelinding denting suaramu. Namun Tuhan hanya sebuah kekosongan di rahim-rahim mengembun, yang tinggal abu tersapu sore sebelum gerimis. Di sekian ribu pekan, bahkan bulan, […]
Baca puisi selengkapnya…