Lauh Mahfuzh – oleh Nurlina Aim

Lauh Mahfuzh karya Nurlina Aim Ya Allah, Ya Tuhanku Tiada hentinya jendela hati ini menangis Ketiga garis tangan yang kau tulis telah kugenggam Ketika aku sadar, aku telah ada di mahligai yang reok Ya Allah, Ya Tuhanku Bukannya aku mengeluh pada apa yang tertulis di Lauh Mahfuzh Bukannya aku tak iklas dengan jalan Al Jannah […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Surga untuk Ayah – oleh Nurlina Aim

Kuraih sehelai sutra pajang itu Kubalut tubuhku yang penuh noda Jaman Jahiliyahku telah kutinggalkan Kususun istana intan untukmu Setiap helai rambutku yang menyeretmu ke neraka Kini kubalut sutra putih yang suci Setiap lekuk tubuhku yang membuatmu menerima cambuk siksa Kini kubalut dengan Hijab berpedoman Syar’i Kututup tubuh yang dulu kuzahirkan Tubuh yang dulu mampu menyeretmu […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Kemerdekaan Semu – oleh Nurlina Aim

Merdeka… Suara bergema meneriakkan kata merdeka Sorak-sorak kegembiraan ramai dikumandangkan Terpesona doktrin kebebasan semu Merdeka… Apa yang merdeka? Sudahkah hidup kita sejahtera? Tidak, kita masih tebelengguh kemiskinan. Leher garuda masih terikat di tugu perjuangan Menunggu generasi melepas rantai yang mengikat lehernya Membebaskannya ke angkasa Mebiarkannya menerkam lintah bernama koruptor Menghapus kemerdekaan semu Mewujudkan kemerdekaan sesungguhnya […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Daun Kehidupan – oleh Nurlina Aim

Angin yang berhembus kencang, tak mampu menggoyahkannya. Panasnya sinar mentari, tak mampu memudarkan warnanya. Dinginnya hawa alam, tak membuat ia menggigil meski diterpa tanpa penghalang. Tak ada keluh dan kesahnya pada pencipta Ia diam seribu bahasa meski hujan dan badai takdir terus menerpanya Si daun tetap sabar, tegar, dan kuat menjalani takdirnya. Dialah lambang kehidupan, […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Jeruji Besi – oleh Nurlina Aim

Dingin.. Dingin yang menusuk raga. Mengundang nyeri pada tulang. Menambah sesalan masa lalu. Dentingan tawa terlali besi. Mengejek raga yang terpenjara. Menghina jiwa yang terkurung. Melukai ego sang pendosa. Jeritan permohonan. Menggema, menyudutkan. Mencekik raga dalam penyesalan. Menghianati sang pendosa dengan tangis. Makasar, 06 Juli 2015 Nurlina Aim Makasar fb: Choi.s.yoon.9@facebook.com
Baca puisi selengkapnya…

 

Bunga Kamboja – oleh Nurlina Aim

Mereka mengatakan aku kotor. Tapi warnaku lambang kesucian. Aku tumbuh di pusara akhir. Tapi aku lambang keabadian. Aku dikatakan lambang kematian. Tapi aku juga lambang cinta. Aku penghias gundukan tanah merah. Tapi juga penghias pengantin Negara Barata. Aku diliputi aura kematian. Tapi aku disebut sumber kehidupan. Aku lambang kematian. Tapi aku pulalah lambang kelahiran. Aku […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Pulau Rindu – oleh Nurlina Aim

Pulau di seberang…. Apa yang tengah mengganggu pikiranmu? Rindukah dirimu padaku? Daku tengah rindu dirimu. Jauh … Jauh dirimu di seberang sana. Terpisah akan selat salabangka. Membuat rinduku padamu merintih. Pulau di seberang … Kini diriku hanya menatap rembulan di sawang. Memandang rembulan pancaran parasmu. Pengobat hatiku yang merindumu. 20 Juni 2015 Pulau Rindu – […]
Baca puisi selengkapnya…