Aku Padanya – oleh Nico Sandi Amor

dipematang senja ada langkah yang kehilangan wajah gerimis turut memungutinya dikisaran rumput yang entah mana buli-bulir bening serupa cermin kehabisan cerita dari seperca kenangan hangus terbakar detak-detik waktu aku menunggu, bukan sekedar membahang pilu tak lagi meronta nafsu meski birahi membeludak diselimutku ruam hangat beroleskan madu, aku menyebutnya dan pelangi yang membentang dilangit malam kulukis […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Tidak Lagi Ada – oleh Nico Sandi Amor

aku meminang sepi menjamur mimpi yang abadi tiap petik nada yang kumainkan hanya namamu aku tua didalamnya bersama pengasingan cinta cinta ini sayang, kelak kubawa meski tersisa sepatah kata karena dipersimpangan ini kau mengirisnya memudarkan halimun yang tertawa aku terlalu renta untuk menjamah tepian kata juga terlalu nista untuk bersandar kepada senja aku tak pula […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Mungkin, Cinta Didasar Telaga – oleh Nico Sandi Amor

seikat dusta dan secangkir abu-abu lagi-lagi menemaniku dalam perhelatan tahun yang memberiku mungkin hari-hari beku senandung yang memaku keriangan hanya angin degup desah jantung yang hanya ingin kukecup rindu berulang kali deras darah mengalir kesekujur tubuh yang basah menyimpul apa yang telah mati membangunkan resah segurat hasrat tertumpah tak berwadah semakin terasa kelat dilidah memukau […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Sekuntum Bunga Milikku – oleh Nico Sandi Amor

berpajang ditepian jendela menunggu nunggu sapa dipagi yang terlanjur gerimis pupus warna seiring semilir mengetuk kaca berhalimun kelopak dipucuk nelangsa tersublim letih beraroma luka menjamah ruang kedap suara, juga udara oii … sesak ini diusiknya setelah malam menenggelamkan aku bersama sebuah perahu bukankah kau hantu-hantu itu? yang menjelma seekor kupu-kupu sesaat hilang tanpa bekas disetangkai […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Hangatku – oleh Nico Sandi Amor

Jika hening memanja pesona dipelupuk senja yang meragu Barisan awan berpangku Sembunyi hujan bercumbu Luruhku terdiam dibangku… Canda gemercik nan lugu Memberi cipratan setengah madu Langkahku yang terpaku Dibuai semilir berlalu Persimpangan semu… Letih waktu, rindu berbaring dahulu Hangatku didalam selimut malu… Hangatku – oleh Nico Sandi Amor Pekanbaru
Baca puisi selengkapnya…

 

Menanti Luka – oleh Nico Sandi Amor

susunan langkah tak beraturan ditrotoar jalan binatang pengerat kecil berlarian mengendus ngendus jejak milikmu yaitu aku, yang terbenam paruh waktu jarak bukanlah penentu, katamu meredam-redam tanya itu bisu toh bayanganku yang tertawa licik, kau tak pernah tau? pun cermin yang berdiam polos hanya membahagiakan tangisku ketika aku terbaring menanti sebait kisah tawar tak berpenghuni tiada […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Seandainya – oleh Nico Sandi Amor

Daripada menyaksikan dinding cermin tak bersahaja Lebih baik aku membohongi sebatang kayu yang terbakar api Asalkan aku dapat melihat pelangi aiiih. . dusta berbenah dipangkal lidah Berganti sunyi menggantung resah Kaki-kaki malam mengawang diatas gairah Rembulan pun musnah . . . Tatkala udara sejuk menggigilkan kalimat suci Kutarik selimut hangat yang membungkus belati Terlelap walau […]
Baca puisi selengkapnya…