Tidur – oleh Nanda Insadani

Tidur bukanlah mauku ada ular derik yang datang malam tadi ; untuk malam lain juga ia menyelusupi batinku tapi aku cinta kau. tidur bukanlah mauku. ada Dia yang menjaga semua ini ; Dia yang selalu kita puja. siapa yang kuasa menolak-Nya? tapi aku cinta kau. Dia dan ular itu masuk sengaja untuk melelapkanku. ular itu […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Cinsampus (Cinta Sampai Mampus) – oleh Nanda Insadani

Apa kau lihat-lihat? Matamu yang berkilau indah tak menyiutkan nyaliku untuk bilang bahwa cintaku t’lah naik pitam Apa kau nyinyir-nyinyir? Tak suka, bilang. Kalau suka, pun bilang. Aku benci mulut manismu yang tak sudi mengungkap kalimat cinta padaku Membenciku, engkau kucinta! Mencaciku, engkau kupuji! Menikamku, engkau kupeluk! Berlari, engkau kukejar sampai mampus aku dilumat bibir […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Berpisah – oleh Nanda Insadani

Serasa mau muntah Bibirku dijerat getah Sebab hati telah patah Kau pergi dengan mentah-mentah Tanpa suara, bahkan amarah Mungkin lebih baik biarlah Akupun lelah Tiada guna mencari celah Hanya aku yang salah Tak pernah mau kalah Mawar itu merah Kau pun berucap, “terserah!” Lalu aku? Aku terus dijajah oleh rupamu yang selalu indah Aku pasrah […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Dari Muridmu – oleh Nanda Insadani

Tergurat di hatiku celoteh yang membosankan Perihal disiplin, tertib, kesopanan Demi kami dan untuk kami Dengan harapan kelak kami mengerti Risau melanda bila kau ada Bahagia seisi hati bila kau tak di sisi Pikiran kami terbalik sejak mengenalmu S’bab kami telah meremehkan sekepal ilmu Mari, lumat habis kebodohan kami! Genggam erat sekarung ilmu yang ingin […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Padahal – oleh Nanda Insadani

Padahal aku; Masih tercebur dalam sumur yang airnya berbau kemelaratan, kehampaan, kehancuran, Biarkan, katamu. Jemarimu menari sombong Mataku melompong, memekik minta tolong Senyummu yang kecut t’lah berbohong: Kau pun menceburkan diri dengan harapan kosong Padahal kau; Tak tahu sumur seberapa dalam Tertawa mengajakku berendam Menerjang hari yang kelam Kau peluk kesedihanku, Kau basuh lukaku, Kau […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Kisah Lampau – oleh Nanda Insadani

Ini adalah guratan hati Yang sungkan untuk mati Walau hati bermain api Namun cinta belajar abadi Pada tonggak hari yang sepi Aku menanti rasa pasti Pada ujung belati kian menepi Tepat di tengkuk mimpi Mimpi yang mana? Tak tersisa. Semua sirna. Kita bukan lagi kita. Hampa. Kisah itu t’lah rata Diinjak derap langkah asmara Yang […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Tak Perlu Judul – oleh Nanda Insadani

Kau adalah padang pasir yang paling rimbun Diatas lembutnya butir-butirmu, hatiku terkulai manja Dalam hangatnya partikelmu, jiwaku bersandar lega Walau kadang gersang, namun hatiku rindang Kau adalah limbah yang mengharumkan otakku yang metropolitan Tak meyakinkan dan menyebalkan Memandangmu aku sungkan, tapi kadang kau menawan Senyum tawa yang menjijikkan, itulah yang aku inginkan Kau adalah spons […]
Baca puisi selengkapnya…