Teringat Lagi – oleh Najwa Futhana Ramadhani

Cahya bintang mengerjap, Begitu kemilau Mengalahkan gelapnya malam Tersenyum, Mentari pagi siap kusambut. Selamat malam, Kukatakan dengan semestinya Walau kau tak menjawabnya Kau hanya bisu mendengarnya Seolah aku tak ada Dan kau diam saja. Sakit hati yang teringat lagi Tak bisa kumanut pada sang Nasib Tak bisa kumanut pada sang Waktu Berontak, Ingin kuhapus ingatan […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Surga dan Neraka – oleh Najwa Futhana Ramadhani

Bisu, Waktuku berjalan terus berlalu Pungkiri dosaku, Apakah surga pantas untukku? Tapi aku tak sanggup bayangkan neraka di benakku Gejolak api yang membara, Membakar tiap jengkal kulit Itulah neraka Sementara mereka yang patuh berlutut, Surga ganjarannya Ibadah yang tak pernah cukup, Dan tak pernah setulus hati Ibadah tak cukup, Harapkan surga di akhirat nanti? Bayangkan… […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Benang Merah yang Terputus – oleh Najwa Futhana Ramadhani

Maafkan daku, Itu adalah kecerobohanku Maafkan daku, Semoga kau mengerti itu Terputus sudah, Benang merah di antara kita Kutahu itu salah, Tak berarti lagi bagiku asmara Terajut kisah asmara, Antar dua insan manusia Namun kandas sudah kisah mereka Kandas ditiup marah dan benci yang dirasa Sekali lagi, Maaf Untuk ketiga kali, Maaf Benang Merah yang […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Jambore Nasional, Ayo! – oleh Najwa Futhana Ramadhani

Pramukaku untuk satu, Indonesiaku yang maju. Pramukaku untuk satu, Negeriku yang sejahtera nan abadi dalam sejarah waktu Kutorehkan di atas secarik kertas, Kutumpahkan semua berisikan azas, Begitu putih mirip kanvas, Walau tak seindah lafadzh. Hari yang bersejarah, Untuk Pramukaku terarah Kami pemuda-pemudi Pancasila, Hendak menuju Jambore Nasional kebanggaannya Dharmaku satu, Untukku dan negaraku Tri satyaku […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Darah Gerilya – oleh Najwa Futhana Ramadhani

Merdeka! Itu kata mereka. Para pahlawan Nusantara. Merdeka! Itu seru mereka. Para pahlawan negara. Gejolak rasa, Antara cinta dan tak tega. Cinta terhadap negara, Tak tega pada penderitaan mereka, Mereka yang lebih dulu berjuang Perjuangan yang terawang. Hasrat ingin bebas, Dari kungkungan penjajahan yang tak berasas. Hasrat ingin puas, Merasakan indahnya merdeka yang tak beralas. […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Tak Terhingga – oleh Najwa Futhana Ramadhani

Aku menangis Air mata ini jatuh membasahi bumi Aku menangis Menyadari, Aku selalu egois Tangisku tak mengubah segalanya Tangisku tak dapat mengubah isi hatinya Aku menyesal Karena perbuatanku Aku menyesal Atas segala kesalahanku Kini … Tinggal kududuk menyendiri Menunggu jawaban hidup ini Akhirnya kusadari … Dia telah pergi Ke pelukan Illahi Walau telah tiada … […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Merah Putih – oleh Najwa Futhana Ramadhani

Langkah-langkah serdadu berhentakkan Mayat-mayat bergelimpangan Darah menggenang Tawa bengis koloni penuh kemenangan Merdeka, seru si Bapak. Perang akan berakhir Dan merdeka akan kami raih Tak lagi ada tumpah darah yang mengharuskan kami berperang kembali Penjajah hai penjajah Jauhilah tangan kotormu dari negeri yang kaya ini Jika tidak … Kami disini, Yang tulus hati mencintai negeri […]
Baca puisi selengkapnya…