Di Atas Meja Ada Pesan Buat Kau – oleh Muh Shodiq Masrur

Aku duduk dalam keramaian orang bicara di suatu cafe yang sering dikunjungi oleh para pendusta yang bangga dengan masa depan yang tak kunjung ada Bagiku hanya sekedar menunggu perempuan adalah perihal yang sangat aku benci dan tak pernah punya niatan sejak kala. Itu pun aku punya alasan yang sederhana Hanya saja tak rela bila sebagian […]
Baca puisi selengkapnya…

 

AISME – oleh Muh Shodiq Masrur

Semenjak rindu mengisi penuh di sebagaian dinding hati Perasaan aku mulai suka mendengarkan rindu berpuisi Dia datang menjelma sebagai perangkap rindu Atau untaian sua hening melengking tinggi menyapa wahyu Yang tersirat begitu terang dari kedua pelupuk matamu Semacam itu aku menyentuh rindu Supaya disampaikan melalui muara seluruh sungai yang mengantarkan airmata seorang penyair, berupa kicauan […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Sepotong Kisah untuk Sebuah Buku – oleh Muh Shodiq Masrur

Buku yang selalu aku baca Sudah tertinggal sejak musim hujan di bulan November Seingatku buku itu telah diletakkan di sebuah genangan airmata Tepat di depan sepasang dua jendela Yang terbasahi oleh airmata pula Dan kau tak perlu khawatir, Semenjak itu aku mulai tak berdaya Untuk menemukan sebuah kata Disaat kalanya kau tak mampu kubaca Sebab […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Tapi Kau Bukan Rembulan – oleh Muh Shodiq Masrur

Bahkan rembulan yang secantik tadi malam pun berdusta Tapi kau bukan rembulan Aku tahu itu dari balik angin yang harum semerbak menyusup di celah-celah jendela Dengan mempercayaimu segampang hembusan nafas, aku tersengal di tengah perselisihan antara celoteh anak manusia, yang berdebat siapa pemilik rembulan Aku pun pergi, melangkahkan kaki mengikuti harumnya cahaya Sesampainya di seberang […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Aku Ingin Menyapa Perempuan Itu – oleh Muh Shodiq Masrur

Awan putih di dinding langit kamarku mulai mendung mengambarkan duka Sinar lampu menerangi sketsa gambar wajah seorang perempuang yang sedang merenung, di balik bola mata yang berkaca kitab-kitab berceloteh dengan ramah, Beberapa butiran tasbih juga, ditinggal diatas sajadah Sungguh rapi, sarung masih saja dilipat dibawah Bulir-bulir bening serupa airmata Masih saja menempel lengket di pipi […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Kotaku Sudah tak Ramah Lagi – oleh Muh Shodiq Masrur

Kotaku tak senyaman dulu Pohon jiwaku telah ditebang Tanah lapangku hilang beserta suara keheningan Sungai yang mengaliri airmataku, terasa pedih Kornea hatiku telah berubah merah darah Hutan kesabaranku dibakar hangus ludes Hingga meracuni paru-paruku Kabut asap pekat membungkam celoteh bocah Hingga tak mampu lagi untuk bercerita Cerita nenek moyang yang menanami jiwa kita dengan pepohonan […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Sang Penggoda Warna Pelangi – oleh Muh Shodiq Masrur

Mungkin berawal dari tetesan air hujan yang tak pernah bisa menembus waktu Ah, entahlah hanya nuasan alam yang menjadi pertanyaanku Sebenarnya siapa kamu? Yang sekarang menjadi sinar di dalam hati dari wajah langit, tiada arti anggapmu! Memang angin selalu membawa awan kelabu Yang mengubah suasana menjadi resah, sapa mu! Ah! apa mau kamu? Telah kupegang […]
Baca puisi selengkapnya…