Bukan Malam – oleh Maulydia Ayu Ningrum

Peduli mengistimewakan jiwa tertentu Setelah dirasa, ternyata semua ini biasa Harus belajar bereaksi secara benar Karena terpukau itu masalah Karenanya segala hal jadi berbeda arti Menanggapi secara berlebih Begitulah Dilihat lagi teduh itu Sepertinya.. Dia tidak dijalanku Aku adalah malam Teduh itu subuh malam pergi dan teduh datang bukan untuk malam Tapi mencari pagi nya […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Undang Lupa Kemari – oleh Maulydia Ayu Ningrum

Setelah gelap malam ini dilalui dengan beberapa gemercik warna dan ledakan dilangit Paginya aku harap aku yang baru lahir Dengan perasaan yang telah sembuh Dan hati yang telah baik Setelah ramainya suara tiupan dari jutaan bibir dimuka bumi malam ini Paginya aku harap aku yang baru ada Bersama keberanian dan kesanggupan menatap pada arah itu […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Mentari – oleh Maulydia Ayu Ningrum

Jikalah mentari benar berpijar Bisakah kupaksa mendekatinya hanya karena kecintaanku? Terbakar bersama perasaan yg kupelihara Pilihan yg mayoritas dilakukan mereka yg teramat dimabukkan Mengusahakan mengikis jarak yg cipta rindu terlarang Padahal sungguh Jalan ini ujungnya masih berkabut Tidakkah ada keingintahuan tentang apa yg berada didepan sana? Perasaan fitrah jangan sampai jadi fitnah Cintailah dengan santun […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Sihir – oleh Maulydia Ayu Ningrum

Berada dalam kelinglungan tidak menetap tahu apa yg sebabkan sesuatu berpindah pindah? Suasana.. Pada suatu menit kamu rasakan bahwa titik ini masih layak untuk ditinggali Pada menit selanjutnya rasannya kamu diharuskan untuk meninggalkan ini segera . Dalam siklusnya tidak ada yg pernah berfikir dia yg pergi akan baik-baik saja Pergi dengan hati yg tak lagi […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Aku bertahan dengan sedikit penyesuaian – oleh Maulydia Ayu Ningrum

Dahulu tempat ini benar senyap Benar sepi tanpa sapaan akrab Diselingi rutinitas memuakkan Praktikum membuat kepalaku berputar Presentasi cipta malam panjang sebelum esok menjelang Sungguh Tidak ada pelangi tanpa hujan sebelumnya Atap rindang dengan segala kesaksiannya Ada perjalanan pahit sebelum semua bahagia ini orang-orang saksikan Segelintir gambar keakraban dalam galeri Tersimpan cerita sulitnya membaur diantara […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Aku sendiri – oleh Maulydia Ayu Ningrum

aku mengemban mimpiku terasa berat jika aku terus rasakan tanpa aku tindaki aku bersama pelita pekat malam kucoba lewati bersama rembulan tidak lagi bersama para malaikat penjagaku aku sendiri aku menepi di sudut kota besar derap langkahku kadang melemah alfa ku kadang terlalu sering lelah aku sendiri semangat datang lalu menghilang dia tidak selalu ditempatnya […]
Baca puisi selengkapnya…