Getir senyuman – oleh Irtsi Kamilah

Aku tlah disini tiba di suatu tempat yang menepi aku tlah disini berdiri diantara kegetiran hati Aku sendiri.. mencoba melawan kegelisahan jiwa aku sendiri.. mencoba tersenyum meski hati getir sedetik terasa seminggu Ternyata hati menyadarkan.. akan luka masa lalu Yang masih membekas.. menorehkan pilu Begitu sakit luka kepalsuan Yang kau umbar dibelakang telingaku.. Aku membisu.. […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Insan Pilihan – oleh Irtsi Kamilah

Sebelumnya aku tlah memilih pilihan yang membatu serta membisu Akibatnya aku terkubur.. Dalam kubangan keterpurukan Namun kini.. Aku tlah menemukannya sebuah hati yang terkunci dan berpenghuni Begitu tertutup menyimpan sejuta cerita.. Aku tak bersahabat denganmu.. Aku bahkan tak mengenalmu Namun hatiku membimbing tuk mengetahui tentangmu Entah siapa jiwa penghuni itu.. Namun hatiku tlah memilih.. Memilih […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Mama – oleh Irtsi Kamilah

Angin berhembus menyapu lembaran daun berguguran.. Hujan mengiringi air mata yang jatuh membasahi kenangan.. Cinta.. Ya semua orang tau apa itu cinta Sakit.. Ya semua orang pernah merasakan sakit Kecewa.. Tak ada satupun insan yang tak pernah alami kecewa kata orang, gagal cinta adalah suatu yang amat terasa sakit membekas.. Membasahi angan dengan darah juga […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Tanpa – oleh Irtsi Kamilah

Mungkin batu memang tlah mengeras Mungkin air memang ditakdirkan tuk mengalir serta angin dibiarkan menyapu sekitar.. Batu itu ibarat jalan fikiranmu air yang mengalir menandakan semua yang kau inginkan yang harus selalu meluncur tanpa hambatan Serta angin yang menggambarkan betapa dahsyatnya apapun bentuk keinginanmu yang wajib kami turuti, meski menyapu bahagia kami.. Ya.. aku memang […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Mereka – oleh Irtsi Kamilah

Terik matahari membakar senyumnya.. Titik-titik hujan menghanyutkan jeritannya.. Tertunduk malu kumelihat diri yang tak pernah merasa puas hati Akan kasih sayang Sang Ilahi.. Aku mungkin memang tlah kehilangan kedua nyawaku.. Namun Dia masih senantiasa mendampingi jiwaku.. Tuhan.. mungkin memang benar aku tak tau diri.. Slalu merasa kecewa dan tak puas hati.. Kini ku tersadar akan […]
Baca puisi selengkapnya…