Rembulan – oleh Ike Prahesti

Angin berbisik lembut Di gelapnya langit malam Daun-daun berguguran tertiup angin malam Kumenatap cahaya rembulan Di balik dedaunan pohon yang rimbun Angin kembali berbisik Membisikkan sesuatu yang selalu menjadi pertanyaanku Mengapa aku seorang diri? Tak adakah yang ingin menemaniku? Menikmati indahnya cahaya rembulan Di bawah langit malam bertabur bintang? Adakah? Yang kutahu, aku duduk disini […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Cinta yang salah – oleh Ike prahesti

Ingin kutarik tiap tetes air mataku Ingin kutarik tiap kata rinduku Ingin kutarik tiap kata cintaku Betapa bodohnya diriku Mencintai seseorang yang tak pernah sedikitpun mencintaiku Menyayangi seseorang yang tak pernah sedetikpun menyayangiku Merindukan seseorang yang tak pernah merindukanku Memikirkan seseorang yang tak pernah memikiranku Kusadari aku bukanlah siapa-siapa Aku bukan kekasihnya Aku bukan pujaan […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Membeku – oleh Ike Prahesti

Langit cerah tertutup oleh awan mendung Angin sepoi-sepoi yang berhembus menjadi angin badai Daun-daun berguguran meninggalkan rantingnya Rintik hujan mulai berjatuhan Musim ini terasa begitu dingin Aku hanya berharap bahwa dingin ini mampu membekukan waktu Agar kau dan aku selalu bersama Tapi, kusadari bahwa yang membeku bukanlah waktu Hatiku yang telah membeku seiring berjalannya waktu […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Merelakanmu – oleh Ike Prahesti

Bibir ini mengembangkan senyumnya Meski mata mulai berkaca-kaca Bukan karena haru Tapi kesedihan yang teramat dalam Kucoba yakinkan diri Suatu saat kita akan bertemu lagi Kuyakinkan diri Bahwa kau akan selalu mengingat semua kenangan diantara kita Kini, kuharus merelakanmu pergi Aku harus menghadapinya dengan senyuman Meski penuh dengan derai air mata Merelakanmu – oleh Ike […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Tanpa Dirimu – oleh Ike Prahesti

Terjawab sudah semuanya Semua pertanyaan dalam hati ini Semua keresahan ini Kegelisahan hati ini pun sudah terungkap Kini aku tahu apa jawabmu Kau anggap apa aku selama ini Kau akhiri hubungan di antara kita Kau putuskan hubungan ini begitu saja Inilah yang selama ini telah kau nantikan Akhir dari kisah kita Tanpa air mata, kuhapus […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Waktunya Tiba – oleh Ike Prahesti

Detik terus berganti Waktu terus berjalan Tanpa bisa dihentikan Sekuat tenaga kutahan air mata ini Meski hati ini begitu sedih Ingin kuhentikan waktu Tapi ku tak bisa Harus kuhadapi kenyataan ini Harus kujalani hidup ini Dengan waktu yang semakin dekat Waktu untuk berpisah semakin dekat Dan aku harus melepaskannya Tanpa air mata Waktunya Tiba – […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Jurang Kesedihan – oleh Ike Prahesti

Langkah kaki ini terasa begitu berat Tubuh ini berjalan dengan gontai Pandanganku kabur tertutupi air mata yang tergenang Masih terngiang jelas kata-katamu Yang membuat kepala ini begitu berat Seakan ingin meledak Dada terasa sesak Tangis yang tertahankan Terasa begitu mengiris hati Mengingat apa yang telah kau lakukan padaku Sebegitunyakah kau membenciku? Sebegitunyakah kau menjauhiku? Akupun […]
Baca puisi selengkapnya…