Bungaku sedang mekar – oleh Edi Violla

Bungaku sedang mekar.. Wanginya terus menyebar.. Pesona jelas tertebar.. Bahagia seperti di surga.. Tak ada kata berduka.. Jauh dari luka.. Ku sentuh bibirmu yang lembut.. Tatapanmu menyambut.. Hatiku lalu terpaut.. Di depanmu aku takluk.. Di belai udara yang sejuk.. Di pelukanmu aku mabuk.. Hari ini kau cantik.. Detik ini kau sangat cantik.. Menit demi menit […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Pentingkah aku – oleh Edi Violla

Menangis di atas keterasingan.. Duduk di tengah lingkar hinaan.. Tergulung kepedihan.. Berhiaskan kesedihan.. Hati sempat bertanya kapan aku mati.. Adakah air mata jika aku mati.. Siapa mau menahan jika aku ingin pergi.. Mungkinkah namaku terpahat dibatu nisan.. Dengan bunga sebagai hiasan.. Penuh air mata kesedihan.. Dan tingkahku menjadi kenangan.. Cermin tak mau menampakan diriku.. Bayanganku […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Malam penuh simpati – oleh Edi Violla

Kita saling mengungkapkan resah hati.. saling menyebut kata maki.. bercerita tentang semangat kita yang sedang mati.. sambil menangis kita merangkak berusaha untuk berdiri.. aku ingin singgah di surga.. tapi nyanyianmu membawa kita ke tempat yang berbeda.. dan kamu bilang kita belum siap mati.. karna kita harusnya iri melihat bulan walau sendiri namun tetap bersinar terang.. […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Bantu aku berdiri – oleh Edi Violla

hidup terasa tak berarti sama sekali di mataku semuanya tampak kusam aku ingin berbaring saja untuk tersenyumpun rasanya malas tolonglah seseorang bantu aku berdiri tolong tarik tanganku bangunkanlah aku lalu aku mulai tersenyum tertawalah aku ayo manis pegang tanganku dan tariklah aku bantu aku bangun kau hebat mampu melakukan itu bawalah cantik kemana kamu mau […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Hanya sampai terang – oleh Edi Violla

Semakin hari semakin terang semakin lama melihat semakin tergambarkan semakin mendekat semakin terpajang jelas perasaan itu semakin tersentuh semakin ingin memiliki semakin menggenggam semakin tak ingin ku lepaskan semakin memeluk semakin tak ingin liha kedisiplinan mentari pagi semakin malam semakin dingin semakin erat memeluk semakin aku luluh semakin waktu berjalan waktupun semakin pagi semakin pagi […]
Baca puisi selengkapnya…