Sahabat Sehati – oleh Dhiya Gustita Aqila

Saat tangis menyentuh kalbuku… Kau datang tuk hibur laraku… Saat jiwaku tengah terluka… Kau datang isi hatiku… Secercah cahaya hidup t’lah kau beri… Setetes embun sejuk t’lah kau simpan… Terik panas matahari kau hidupkan… Dalam zaman ini kau begitu berarti bagiku… Ku terjatuh bila kau pergi… Jauh…sangat jauh dari hidupku… Kenangan itu kan teringat kembali… […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Esok dan Kemarin – oleh Dhiya Gustita Aqila

Ku berharap menjadi seorang angkasawan… Tetapi baru kemarin aku takut ketinggian… Esok ku ingin bahagiakan ibu… Tapi kemarin aku tak bisa bahagiakan diriku… Bagaimana esok… Jika kemarin buruk… Bagaimana aku… Jika dia menghalangi langkahku… Kemarin adalah penentu esok… Dan esok harus lebih baik dari kemarin… Ku harus perbaiki sekarang… Agar esok bagai kupu – kupu […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Air Mata Untuk Guru – oleh Dhiya Gustita Aqila

Kembali hilang bagian penting hidupku… Terlalu cepat waktu mengambil dirimu… Waktu tak mengerti apa perasaanku… Air mata kembali bersamaku… Melepasmu bagai dagingku telah hancur… Hatiku layu tidak kembali mekar… Ku tak bisa menjadi seorang anak pintar… Tanpa dirimu itu akan sukar… Air mata ini untukmu… Kau dapat dengar tangisannya selalu… Suaranya kan bergema di tiap […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Perpisahan – oleh Dhiya Gustita Aqila

Waktu membawa, kian mendekat… Tak ada kata yang dapat diucap… Isak tangis mulai terdengar… Beribu kata terpendam dalam duka… Iringi hilangnya kebersamaan… Angin berhembus kencang, hantarkan pesan… Untukmu yang jauh disana… Senyummu yang dulu ada, pudar ditengah waktu… Suara tawamu, kian menghilang di tengah langkahku… Sungguh ku rindu, kenangan yang dulu… Ku tertekan mengingat perpisahan […]
Baca puisi selengkapnya…