Selepas Bayang – oleh Dhika Zakaria

Sentuhanmu kabut hanya tinggal embun yang tak basah. Kusimpan rambut sehelai bekas jatuh di pundakmu yang memerah. Yang dulu kuambil pakai bibir yang kini kaku pecah. Sambil memeluk bayang kuraba malam-malam yang tertinggal di punggung. Lantas kuberikan senyum sederhana, karena terasa sakit bila kutarik kedua kutub bibirku lebih menjauh lagi ; aku tak rela berdarah […]
Baca puisi selengkapnya…