Kota seribu malam – oleh Daniel Satria Sutrisno

Simburat cahya… Menyilaukan tatapan para pemegang malam Di lekuk punggung kursi tua kota Menatap datar lelaki mudah berperawakan kacau Jemarinya menggamit sebotol bir separuh kosong Hanya kilauwan simburat cahya jalanan yang menyamar-nyamarkan sosok putus asa ini Gerimis mungil menghiasi redupnya pendaran lampu jalanan Yang senantiasa menguning di sepanjang sisi jalan Telamatilah nyanyian pohon akatsia tua […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Melupakan Kenangan – oleh Daniel Satria Sutrisno

Dahulu corak langit begitu biru, siulet mentari begitu hangat , dan angin sembai selalu mendelik malu-malu Rumput hijau menari menebar aroma kambium di bawah naungan kaki, yang menapak rindu dalam cinta Selebaran-selebaran senandung menari-nari bersamaan mekarnya bunga cinta yang lugu Menatap seberkas senyum pada bibir tipis yang ronah Membuat ku ikut meronah Aku! Kamu mencintai! […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Sepasang Sayap Cinta – oleh Daniel Satria Sutrisno

Sayap mu menari di udara Berpendar di antara dua sisi siulet temaram Aku merona dalam sebuah lekuk senyum Kamu pandai menawan hati kata ku Akupun sering terjerat dalam bawaan lagu mu yang menawan Menari dari lekuk senja yang rupawan Sampai simburatnya berganti temaram Kapan kamu mulai berlari seperti kekanak-kanakan dalam rangkulanku Aku selalu terpengaru sifatmu […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Pelangi Dalam Hujan – oleh Daniel Satria Sutrisno

Sebuah isyarat apa? yang menatap dalam gelap! Berapa lama lagi buta sebelum benar-benar buta?! Ada sebuah rahasia kecil di antara kita Tentang sebuah cerita yang miris dalam teka-teki air mata Kala itu hujan, dan kita berniang di sisi halte tua Aku bertanya, langit apa yang paling kamu suka Kamu hanya menunjuk gelap di antara hujan […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Kelingking Persahabatan – oleh Daniel Satria Sutrisno

Kemana langit berujung saat kita menjelajahi cakrawalanya Dan mengapa mata kita kian berbinar menatap cakrawalanya Di bawah siulet metari, dua kelingking bertautan janji Dan di beri nama kelingking persahabatan Dua gambar perawakan bocah kecil bergembira bersama Meniup dendelion sambil jongkok di bukit rumput Dua mata yang sama-sama berbinar menatapi pergi tunas-tunas dendelion, yang mengapung pada […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Melukis Gambaran Mu – oleh Daniel Satria Sutrisno

Seringkali terbayang, di waktu yang kian melekang Banyak yang kian berubah, namun senyum tulus mu tak setitikpun merekah Seberapa waktu yang menyengal dalam derita Di rundung murung yang nian merebah Namun hangat mu selalu hadir dalam dekapan doa Kembali pada cerita mu.. Tentang pahlawan di sepanjang masa Yang mengarungi tujuh samudra.. Yang menggapai bintang dalam […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Pertanyaan Hati – oleh Daniel Satria Sutrisno

Kalau kamu bunga? Apakah aku harus jadi lebah untuk dekati mu? Bukankah lebah lain juga mengincar pesona mu? Andai kata kamu bulan? Apakah aku harus menjelma bintang menemani mu? Tapi aku gusar, lantaran banyaknya bintang malam selain aku. Jika kamu sendok? Haruskah ku pilih jadi garpu tuk menemani mu? Namun mengapa rasa ku bimbang. Sebab […]
Baca puisi selengkapnya…