Sebuah Catatan – oleh Chandra Bayu Pradana

Oleh : Chandra Bayu Pradana Kutulis sebuah catatan Yang kurawat di rumah tua Begitu sangat sederhana Tentang kita; sebuah cerita Sebagaimana hembusan angin Aku tak sekalipun memaksanya Selayaknya rinai hujan Aku takkan sanggup menahannya Kelak rintiknya kan reda Dan embun itu untuk dikenang Di ranting-ranting cemara Kita masih satu nama; cinta Sebuah Catatan – oleh […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Widuri Senja – oleh Chandra Bayu Pradana

Senjalah matamu kekasih Teriak bulir pasir di pesisir pipiku Ialah air mata yang menderu karenamu Senja di ujung temu menjadi janji yang menidurkanku Kekasih, duduklah kau pada bingarnya jingga Lalu sampaikan apa yang air matamu katakan Biarlah tawaku yang menjadi genderang paling lantang Akan kukibarkan laksamana sunyi para penyair malam Nyenyaklah tidurmu kekasih Terbaringlah kau […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Menembus Waktu – oleh Chandra Bayu Pradana

Ku basuh waktu tentang canda tawa Saat kita saling menggengam di sudut kota Jabat erat kasih saling menguatkan Hingga tak terasa kita tenggelam di luar kesadaran Kita sempat kokoh berdiri,kekasih Menjadi bising bagi sunyinya kaki lima Melukis sejuta asa pada damainya pelukan Tempat paling teduh bagi keluh kesah peradaban
Baca puisi selengkapnya…

 

Kepulangan – oleh Chandra Bayu Pradana

Oleh : Chandra Bayu Pradana Aku kira dunia ini sungguh berputar Ternyata waktu yang berjalan terlalu riuh Hingga aku rasa pagi paling tabu terjatuh Menepuk leher senja yang menyambut petang Aku terdampar setelah jauh terombang-ambing Tak lekas pulang pada peraduan simbolis cerung malam Kambali menjadi pena bagi tabir ilalang Setelah pulang, setelah kembali dari awang-awang
Baca puisi selengkapnya…

 

Simfoni Kopi – oleh Chandra Bayu Pradana

Oleh : Chandra Bayu Pradana Disini kekasih, aku masih terbakar rindu Kutulis syair tentang hujan, tentang sebuah kehilangan Hingga aku tersadar pada tepian senja Kurasa air mata telah benar-benar bermuara Kembalilah kekasih Pada damai di sela derai kerinduan Pundakku lapang teruntuk sandar pelipismu Menjadi selimut hangat tanpa sehelai benang
Baca puisi selengkapnya…

 

Ilalang Senja – oleh Chandra Bayu Pradana

Aku larut pada ricik air di sela bebatuan Menerpa seluruh riuh dedaunan Kikislah seluruhku, seusai hujan paling melankolis Puisiku ini kekasih, sebab segala irama tangis Deruku irama seruling pengantar surya tenggelam Menjadi senja paling jingga seusai hujan Melucuti segala dimensi penghalang mimpi Menjadi rebah bagi seluruh letih di jiwa
Baca puisi selengkapnya…