Harus(nya) Sadar – oleh Anggita Gian Sahala

Tuhan akan menitipkan suratku padanya lewat mimpi Mimpi yang dilakukannya saat ia tidur Dan angin akan membawa sejuta daun kering kepadanya Saat dia sendiri di alam tak kekal ini Hingga akhirnya dia sadar akan apa yang dilakukan kayu rapuh di dekat jendela kamarnya Saat itu pula ia akan menulis jawaban surat mimpi itu dalam tinta […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Rasa itu datang (lagi) – oleh Anggita Gian Sahala

Kamu adalah sebuah bagian hujan yg tersimpan Suara gemercik air mampu menenangkanya Bau tanah mampu menyejukanya Dan setiap tetes air yg jatuh mampu membawa kenyamananya Kau tau? Itu hanya sajak Sajak tak berirama untukmu Untuk yg telah datang saat kemarau datang Untuk yg telah datang membawa bahagia Aku bukanlah penyair yg baik untuknya Namun untukmu, […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Change – oleh Anggita Gian Sahala

Engkau hadir dalam tangisku Menembus ruang dan waktu Untuk membuat bayangan nyata dalam hidupku Mengubah posisi bintang yang telah redup Mengantarkan pena dalam bait-bait indah tentangmu Hingga menjadikan cahaya di gelapnya malam Dan menyiram bunga yang layu di pojok rumah Seolah mimpi bangkit dalam tidur Berjalan membawa kenangan tuk sembunyi Berlari mengejar pelangi Hingga menetap […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Senin – oleh Anggita Gian Sahala

Minggu telah terganti Hari senin telah menanti Kabut fajar mengisi senin pagi yang bergerimis Menyelimuti pipi manis Seakan enggan tuk meringis Namun tetap saja hati menangis Tiba saat tuk bangkit Melewati detik-detik hati tersakiti Segenggam memori telah terlewati Semoga tak lagi bertamu berteman sepi Hari ini Hari senin Hari tuk memulai Hari tuk melupakan sepi […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Kala goresan hati tercipta – oleh Anggita Gian Sahala

Terpampang kertas putih bersih Tanpa noda terasa amat suci Kutuang tinta tuk memulai Ku ukir nama dalam hati Tertanam terasa akan abadi Monokrom dalam nuansa bening Memadukan kisah dan kasih Seakan mengalir begitu jernih Cinta yang akan memulai Lingkaran polkadot yang berbeda Ialah kita yang bersatu Seolah tak sadar Dunia mendesak bercerita Angin hembuskan nama […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Rasa Embun – oleh Anggita Gian Sahala

Embun pagi nampak tak polos Akan surut di makan panasnya terik Embun tak pernah sejuk Embun hanya tercipta lalu diam Diam menunggu kabut menyempurnakan embun bersama pagi Lalu menetes Lalu hilang Embun hanya semu yang nyata Embun hanya setitik yang nampak ada namun akan tiada Embun ada di waktunya, namun terkadang tak memiliki sejuk Titik-titik […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Puisi untuk Dika – oleh Anggita Gian Sahala

Fatamorgana Hati Tak tentu arah akan kemana berjalan Ingin pergi, namun terhalang sekelebat kabut Kau datang membawa cahaya terang Kau datang membawa angin terbangkan lalu Menjaukan bulan dengan matahari Mendekatkan bulan dengan bintang Bintang itu kamu Kamu itu titik Titik dimana terang berada Titik dimana bahagia tercipta Titik dimana aku kembali Titik dimana semua berhenti […]
Baca puisi selengkapnya…