Benang Merah – oleh Amalina Dwi Prasanti

Dia orang bukan yang selalu mencari – cari rasa cinta, juga bukan orang yang sering dibuai kata – kata manja Hidup sederhana dengan usaha – usaha kecil bermakna mengikuti arah dia jalan Rasa takut sudah tak mempan, kelaparan jadi keluhan sering keluar Tetapi wanita itu datang membawa senyuman hati kosong memintanya mengisi Ketakutan akan sepi […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Ceritakan Takdir – oleh Amalina Dwi Prasanti

Biduk di langit masih kering tertawa Melihat aku yang tetap bercumbu dengan khayal Menari kata dalam balutan puisi Membingkaikan rasa dalam bait Puisi adalah aku Aku bercinta dengan kata Dan merangkainya menjadi satu kenangan indah Dekapan kalimat panjang membuai diriku mesra Kutemukan ada detak lemah setia, dalam biru takdirku Nama : Amalina Dwi Prasanti Alamat […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Humaira – oleh Amalina Dwi Prasanti

Humaira Sorbannya panjang menutupi rambut terikat yang mulai tergerai Matanya indah bulat beralis tebal dan lentik lekukan bulu – bulu hitam di atas matanya Dia tersenyum ramah, memandang cantik pria yang datang dengan sunggingan senyum menentramkan Entah mengapa rasa – rasa sejuk datang, entah darimana pengahayatan dari indahnya surga ini datang Ketika prianya itu tiba […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Sengkuni – oleh Amalina Dwi Prasanti

2 jam di Raja Ampat. Tak ada polisi berdiri katanya. Dia tak mau pulang. Datang ke karamba siang – siang. Pucuk gunungnya Raja Ampat membeku dengan amarah sengkuni saat itu. Budak – budaknya datang tunggu aba – aba para pandhawa dari tanah nusantara. 4 jam di Raja Ampat. Dia menghampiri urat nadi yang dia paksa […]
Baca puisi selengkapnya…