Bertutur Malu – oleh Agung Ardianto

setangkai kematian ku petik di janin hari. aku adalah pedang di tangan peladang. tuhanku adalah getah dan darah. ibuku adalah batu. mengasihi dengan diam membisu. ayahku adalah api. mengajari aku menari. terkadang di bawah bantal penuh sperma aku tinggal. mendengar khotbah istri-istri yang kemaluannya jadi neraka. memotong leher mereka dengan sukarela. ya, aku adalah hukum. […]
Baca puisi selengkapnya…