Mati Rasa – oleh Lulu Meilinda Mulyono

Kaca tilas telah pecah Berkeping sisa-sisa panah Hati tersayat terlanjur patah Darah terbeku kehilangan arah Air menyapu sisa darah tadi Tiada musik hari ini Kamu harus merasa sepi Jika jiwa tak sanggup dimaki Ambilkan kain kosong itu Isilah dengan guratan kalbu Tetapi jangan mengaharu biru Biarkan saja garisnya menyatu Lihat indahnya kepingan mawar Hati-hati durinya […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Lapisan Debu Wajah Budaya Pendidikan Negeriku – oleh Murni Oktarina

Wajah budaya pendidikan terang dahulu Peradaban tinggi beralit yang lalu Dikelilingi Sekar Padma indah beradu Namun kini muncul stigma bagai benalu Ini Negeri Merah Putih dengan budayanya Revolusi peradaban mengikis lama-lama Wajah yang ditutupi kelir sepenuhnya Dari dalam basah berkeringat; berbeda Wajah budaya pendidikan yang berdebu Melahirkan industri kepentingan satu satu Budaya bermalapraktik merenggut ruh […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Anugrah tuhan – oleh Devi Rahmadani

Kehidupan adalah roda berputar Kadang orang ada diatas Dan kadang dibawah Ketika diatas Banyak sekali orang yang lupa dengan penciptanya Dan berbuat tidak senono Ketika dibawah Banyak juga orang yang menyalahkan penciptanya Dan menyesal akan hidup yg dijalaninya Tanpa sadar kalian menyakitinya Dan tanpa sadar kalian membencinya Tapi ia selalu memaafkanmu Karena ia tau Bahwa […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Rasa sang penulis – oleh Aulia Fatonah

Begitu banyak kisah yang bermain menyertakan rasa, ini cara kita menyuarakan dengan tulisan. Menghembuskan nafas kasar mencari kata untuk mengungkapkan emosi yang sudah renta dan kelelahan. Diam berfikir… Diam kita bersandar… Diam mengamati cuaca dan menarik kedalam hamparan pikiran luas sampai jauh, hingga membuncah emosi yang lelah itu. Saya menulis… bersama khayalan, karena ilusi saya […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Oh tamanku – oleh Mahendra Manik

Tamanku yang dulunya kubanggakan.. Tamanku yang menghiasi indahnya kecilku.. Tamanku yang memberi kehidupan pada setiap orang.. Tapi kini, tamanku tertunduk lesu.. Muram mukanya dihantam keberingasan sanak saudaraku.. Hancur badanya dimutilasi perkembangan zaman… Tapi kenapa, engkau tetap tabah akan penindasan yang engkau hadapi.. Kenapa engkau tetap tersenyum di depan orang yang ingin mencabut nyawamu.. Kenapa oh […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Murka – oleh Ane Gusma

Akibat alam dan manusia Dimana-mana terjadi bencana Mungkin tuhan sudah murka Karena manusia jarang berdo’a Ratusan ribu nyawa melayang Akibat bencana sering datang Kumohon pada sang penyayang Agar bencana dapat hilang Bencana yang tiada henti Melanda negeri dijaman reformasi Masusia yang menjadi-jadi Meninggalkan agama yang diimani Mungkin ini adalah peringatan Untuk kita terhadap keterbatasan Terhadap […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Aku Bukan Penyair – oleh Faridz Ridha Syahputra Agus

Hari sudah larut Ku ingin bermimpi Tetapi angan tak sampai menggapai Ku tarik lagi jiwa dan raga ini dari kasur Ku duduk di kursi depan meja belajar Ku tarik kitab dari tumpukan buku yang berdebu Ini bukan kitab suci Ini kitab pelampiasan Bukan pelampiasan amarah Apalagi bahagia.. Ini pelampiasan keisengan Ku goreskan tinta dari setiap […]
Baca puisi selengkapnya…