Sajak ‘Milik Kami’ – oleh Yekti Migunani

Indonesia adalah milik kami Termasuk darat dan laut nya Setidaknya begitu Sebelum pulau-pulau mulai dijual Indonesia adalah milik kami termasuk sumber daya alam dan manusianya Setidaknya begitu Sebelum saham asing menguasai tambang Sebelum tenaga asing lebih dipekerjakan Indonesia adalah milik kami Termasuk pangsa pasarnya Setidaknya begitu Sebelum barang impor lebih menguasai Indonesia adalah milik kami […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Kambing hitammu – oleh Rachmat Saputra

kau beri kepercayaan kau beri jabatan seolah raja bangsawan rupa elok hartawan memang jamuan kekayaan singgasana kerajaan kambing hitam diberi makan menjadi sembahan hari qur’ban para penjilat lidah menjerat aku seperti sampah menjijikan penuh ludah sungguh memalukan aku sang kambing hitammu yang tak bersalah menanggung malu itu semua karna jamuanmu untuk besilat lidah dari dosamu […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Dunia yang terbatasi – oleh Achmed Faiz Yudha Siregar

Saat ini aku mengamati di keramaian yang bagaikan sepi Bukan berarti aku tidak bersosialisasi tetapi banyak orang orang yang sibuk sendiri Sekelilingnya seolah hanya tepi Tepi yang membatasi untuk berinteraksi Yang hanya memikirkan diri sendiri teknologi yang membutakan hati Saat orang hanya bisa menatap ke tepi Yang bisa membuat orang tidak peduli Sekaranglah saatnya untuk […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Janji Putih – oleh Yanti Prawatie

Jari jari ini menangis seraya menjatuhkan aksara keatas kertas putih ini Janji putih kuukir disini Keteguhan hati kutancapkan kebumi Kutegar berdiri dan berjanji Kufahami arti kalimat yang kau beri Kutelusuri jejak hati yang kau curi Sungguh… Tak ada yang bisa mengganti Posisimu dalam hati Karna cinta yang terpatri Kuatkan kasih suci Walau… Kau bilang janji […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Menangislah – oleh Siti Patimah

Butiran air mata yang terus mengalir Tanpa henti-hentinya kamu mengusap Seakan-akan kamu melarang tangisan Yang tidak memiliki salah dan dosa Padahal tangisannya pada dirimu sendiri Maka ku harus peringatkan kepadamu Biarlah air matamu mengalir deras Walaupun sulit sekali untuk berhenti Karena tetesan air mata itu ingin bebas Yang tidak pernah kamu mengerti Sesungguhnya …. Di […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Acuhkan saja – oleh Ryan Syah

Genderang – genderang berbunyi di jalanan. Acuhkan saja. Suara – suara berteriak berhamburan. Acuhkan saja. Keringat berhamburan ditanah air beta. Acuhkan saja. Tutup semua mulutmu, tutup semua kamera mu. Semua baik – baik saja. Suara semakin lantang. Acuhkan saja. Keringat menganak sungai. Acuhkan saja. Takbir menggema berserakan. Acuhkan saja. Tutup semua mulutmu, tutup semua kamera […]
Baca puisi selengkapnya…