Semesta Bercerita – oleh Faridz Ridha Syahputra Agus

Dari semesta Untuk manusia Demi bumi Merkurius, venus, bumi, mars, yupiter, saturnus, uranus, neptunus Hanya bumi yang membuat ku bercerita Mungkin karna nasibnya yang malang Terhuni oleh makhluk koloni yang tak bertanggung jawab Manusia yang sia-sia Apalah arti hidup jika untuk diri sendiri Apalah arti hidup jika ta bermanfaat untuk yang lain Kau racuni bumi […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Insan Celaka – oleh Fitri Ida Yani

Tertawa hihi haha Bangga dengan semua yang ia punya Tanpa sadar berapa banyak salah dan dosanya Ah manusia celaka Hidup dalam dunia penuh fatamorgana Layaknya melakonkan sandiwara dalam drama Parasnya indah nan mempesona Namun sayang bermuka dua Dunia ini sudah cukup lelah, lapuk, rapuh dimakan usia seiring waktu akan mulai menua kemudian hancur, lenyap, dan […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Untuk monic – oleh Wewex

sekata saja tak kau ucap,tembok! biar meratap aku pada sapaan.. meminta balas,dari pertanyaan ,juga pengakuan yang aku pendam.. dulu,kau seperti tembok! dulu kau pernah runtuh aku gempur.. lagi kau jadi tembok! ku ukir sapa dan tanya biar kau roboh! Untuk monic – oleh Wewex Magelang, jawa tengah
Baca puisi selengkapnya…

 

Benci – oleh Ahsani Siti Sadiyah

Bukan merindu Gelisah karena sulutan menggebu Makan habis cinta oleh kobaran Kebaikan menguap jadi asap Hanya abu Dipikir hitam dan bau Menggebu Masih ada dan dalam Disulut lagi Dan membenci Kebencian kau yang lahirkan. Benci – oleh Ahsani Siti Sadiyah IG : ah.sanissa Alamat : Garut – Jawa Barat
Baca puisi selengkapnya…

 

Bertahanlah – oleh Elvina Dwi Rahmawati

Saat kuatmu melemah, bertahanlah Saat kenyataan tak sesuai harap, bertahanlah Saat cobaan terus menerpa, bertahanlah Bahkan saat seluruh dunia meninggalkan, tetap bertahanlah Bertahanlah Bahkan hanya itu yang Tuhan harapkan darimu Kau terus bertahan, cukup sekuatmu Selebihnya, percayakan saja pada Illahi Rabi-Mu Yakinlah Selepas hujan lebat ini Ia akan hadirkan senyum mentari Ia akan hadirkan pancaran […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Yang Jalannya Selalu Mengadah Ke Atas – oleh Tine Hardian

Alam yang asri mulai punah Gesekan gergaji sedikit demi sedikit menggerogoti hijaunya dedaunan Pohon yang lebat mulai kehilangan batangnya Kini tinggalah binatang pengisap darah setelah banjir menerpa Dengan berjuta tangis yang menyapa Hey kau, Yang jalannya selalu mengadah ke atas! Disini banjir, longsor, tak bisakah kau menunduk Berjalan dengan sorot mata kesombongan Memang kau ini […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Tak mau palsu – oleh Imami

Senyap alunan angin menghembus membawa irama suka Berjalan diam dengan segudang rasa Perihal rasa banyak makna dari rintikan gerimis senja.. tawa setiap manusia.. air mata yang tak berkata nada dari dawai biola dan juga celoteh camar tolol di tepian samudera.. semua fana mereka maya tak nyata.. aku tak suka.. gembira dalam air mata Tawaa membara […]
Baca puisi selengkapnya…