Tertipu – oleh Faridz Ridha Syahputra Agus

Yakin keputusanmu Bulat tekadmu Waktu, pekerjaan, harta, keluarga Semua kau korbankan Hingga kabar yang dibawa angin pun datang Kau rasakan buah bibir itu Pahit, pahit, sungguh pahit… Tapi kau tak ingin semua orang tahu Api di dapur tak lagi se membara dulu Air di bak tak lagi sejernih dulu Hati kecil mu masih berharap Sungguh […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Sesal Dalam Malam Sunyi – oleh Alfiriz Nadhira

Malam sepi ku sendiri Melamun merenung menunggu pagi Nista terbuat mama luka Luka mama tak pernah luput Bagaimana mungkin ananda yang keji ini jadi idaman Ilmu saja tak pernah di ananda genggam Bagaimana mungkin jiwa ini bersuci Menangis sesal tak pernah Mengapa ananda masih bodoh mama Adakah embun pagi memberi setitik keteduhan hati Ananda gelisah […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Sebuah Penyesalan – oleh Nurmila Dewi Sinaga

Aku tak sanggup merasakan debur ombak hati itu lagi Aku tak mampu membayangkannya lagi Ribuan besi telah rapuh karenanya Jutaan tetesan air mata telah lenyap karenanya Aku bertahan dalam diam yang membelenggu Penderitaan yang ku rasa seolah tiada henti Puing-puing kenangan telah terkubur dalam-dalam Kata-kata seolah genting dan tak bermakna Biar semua hilang tersiram air […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Sore yang mengecewakan – oleh Jefris Simarmata

Sore bersama kekecewaan. Suasana Sore ini begitu menegangkan Langit biru seakan ditikam hitam kelamnya awan hitam Suara hentakan gemuruh ikut menemaniku sore ini Aku menjadi ter ikut suasana suram hujan dan dinginnya sore ini Hmmm… Semua ini berawal karena sebuah janji yayaya janji untuk bertemu dengan seorang wanita. Aku terperangkap oleh suasana yang tanpa kuduga […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Bayangan – oleh Ripani Intan Ramadani

Sampai kapan awan enggan tunggal berdiri Sampai kapan mentari enggan berdiam manis Sampai kapan pelangi enggan tiba tanpa hujan membasahi Sampai kapan jingga enggan berwarna romantis Layaknya purnama yang menggenapkan langit Tanpa tau siapa yang membuatnya begitu indah di langit Kau mematung dengan senyum sinis Dan berkata, sampai kapan aku berada disini? Kau yang slalu […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Kesempatan Kedua – oleh Najwa Futhana R

Salahku, Keegoisanku. Aku tahu, Akan terajut kembali asmaraku, Antara kamu dan aku. Cinta, Hal yang paling ajaib yang kurasa. Sesungguhnya, Kamu adalah yang pertama. Dihatiku untuk yang kucinta. Tapi semenjak aku memutus benang itu, Benang merah di antara kita, Aku tahu, Kamu kecewa. Maaf, ucapku. Aku tahu itu terlambat. Kesempatan kedua dariku. Mungkin bagimu tak […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Rasa Salah – oleh Wildan Hasibuan Amriansyah

Aku terduduk, menatap senja di ufuk barat Aku merenung, aku mengingat Apa yang telah aku perbuat Aku sempat melawan Peraturan dari Tuhan Aku ini manusia Aku tak sadar diriku lemah tak berdaya Oh, rasanya ingin sekali untuk pindah tempat Aku sudah mencoba bertobat Tapi, setan selalu membisikkan kata – kata sesat Aku ini pernah dengar […]
Baca puisi selengkapnya…