Seribu masjid di telinga – oleh Angga Pratama E

Andai kau tahu aku sendiri Tahukah kau Aku sepi Pikiran-ku kacau entah kemana Lihat mataku tak tahu apa Angin membelai badanku Otak-ku kini mulai beku Tapi hatiku tidak Jika kau kutanya,berapakah jumlah telinga Aku yakin kau jawab dua Tapi,bila kau balik tanya diriku Telingaku lebih sejuta Jika kau kutanya,apa fungsi telinga Pastilah kau jawab Untuk […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Ramadhan Ku – oleh Rachmad Arifandi

Teringat saat masih kecil, Ayah dan Ibu mengajarkan ku tuk bangun tengah malam, Dengan malas dan rasa kantuk yang menggelayutiku Ayah menuntunku untuk bersantap sahur bersama keluarga. Sementara itu, Ibu menyajikan hidangan hallalan toyyiban Diatas piring-piring suci penuh harapan Harapan akan ibadah puasa yang diterima oleh-Nya. Selang beberapa menit sesudahnya, Ayah memimpin kita untuk berdo’a […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Akan Ada Saatnya – oleh Juliana

Hamba terlahir dari tiada Tapi tergaris takdir di tangan Bak bening warna kaca Manusia ada saat dilahirkan Nasib di ubah dengan usaha Takdir di ubah dengan doa La Tahzan… Jangan bersedih bila belum ada.. karna akan ada saatnya Ada saatnya dimana memiliki Dan ada saatnya dimana bahagia.. Harusnyalah hidup apa adanya Sabar dan sukur adalah […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Janji yang Tertinggal – oleh Wardatul Hasanah

Ketika syahadat telah lama terucap… Ketika dzikir telah lama terdengar… Suara adzan terlupakan karena hipnotis zaman… Singgasana Illahi perlahan pudar karena kelalaian… Mungkin, penyalahgunaan pergaulan mulai berlayar menuju ketaatan para muslim… Apakah kita akan begini selamanya kawan…? Ingatkah kita dengan janji-janji yang telah terikrar…? Sungguh, hinanya kita… Menelantarkan saksi yang menjadi bukti Islam kita… Mari […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Surga dan Neraka – oleh Najwa Futhana Ramadhani

Bisu, Waktuku berjalan terus berlalu Pungkiri dosaku, Apakah surga pantas untukku? Tapi aku tak sanggup bayangkan neraka di benakku Gejolak api yang membara, Membakar tiap jengkal kulit Itulah neraka Sementara mereka yang patuh berlutut, Surga ganjarannya Ibadah yang tak pernah cukup, Dan tak pernah setulus hati Ibadah tak cukup, Harapkan surga di akhirat nanti? Bayangkan… […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Duhai Kekasih Hati – oleh Ai Nurnendah

Engkau yang telah menawan hati ini Entah bagaimana bisa.. Betapa gemetarnya aku saat namamu terucap begitu merdu Menggelayut dalam jiwa Bak sekuntum bunga yang kelopaknya berjatuhan ke atas tanah Semilir angin yang menyambut Membuat dirimu semakin harum dalam jiwaku Engkau yang telah menawan hati ini Mungkinkah terjadi suatu hari nanti Pada pertemuan yang Allah janjikan […]
Baca puisi selengkapnya…