Tak Semudah Membalikan Telapak Tangan – oleh Ulan Fitriani

Kamu memberiku kekuatan sebuah cinta. Pada cinta yang membawaku pada rasa yang nyata, pada cemburu yang nyata, dan pada sakit yang menyiksa. Waktu menghimpitku untuk bergerak. Hatiku dan Pikiranku saling mengadu menentang rasa. Berucap tak berucap sama saja. Sakit dan sakit yang bersahaja. Ia menduduki posisi yang utama bagaikan raja. Padahal hatiku tak sekuat baja. […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Awal kerinduan dan doa – oleh Agung Wahyu Jatmiko

Tahun yang berganti tanpa henti Membangunkan kembali ingatan yang hampir mati Menyusun kembali puing – puing yang berserakan Memaksa kesekian kali hati untuk merelakan Ya… semua tentangmu masih saja membayang Aku mengingat jumat pagi dan tangis yang terus menghampiri Juga derai kata maaf seiring keputusan yang kau sesali Pada hari itu, bukan perpisahan yang menuangkan […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Untukmu yang menyadarkanku – oleh Sulistiani

Sudah jelas namun tak ku mengerti.. Sudah nyata namun tak ku pahami.. Sudah tampak namun tak ku hayati.. Maaf jika ku telah menahanmu untuk pergi.. Ku buka mataku perlahan.. Ku tata hatiku untuk yang ke depan.. Namun untuk memberi waktumupun kau enggan.. Karna kau telah temukan yang kau inginkan.. Aku sendiri dalam luka.. Aku termenung […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Kesetiaan – oleh Agoes Darmawan

Malam malam menyala Ribuan sepi dihias rindu Pelan pelan membuatku perih Dari setengah jejak yang dilalui Diriku terjerat kesetiaan Tak mau lari dari kenyataan Mungkin sulit untuk kulepaskan semua Kebagiaan yang kini tinggal kenangan Aku punya cinta Namun hanya diriku yang punya Mengapa yang lain bisa Mengikat kesetiaan yang abadi Cinta ini hanya untukmu Sejak […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Terlalu Dalam – oleh Yuanita Indah Sari

Bayangan mu mengusik jiwa Dari tanda tanda rasa Membuat otak ini kehilangan akal Hanya diri mu yang aku pelajari Terlalu dalam aku jatuh dalam hati mu Hingga tak seorang pun dapat menolong Gema teriakan pun hanya aku yang mendengar Hingga aku tenggelam dalam air mata sendiri Kalau aku tau kau adalah racun Tak akan aku […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Pergilah – oleh Nudia Mafaza

Malam ini, Bulan kehilangan bintangnya Sehingga ia tak mampu lagi bertahan pada cintanya Aku adalah bulan itu Dan bintangnya adalah kesabaran2ku mempertahankan cinta ini Malam ini, Saat sang bulan kesepian Saat guratan senja menambah kesenduan hati Tak bisa ku pungkiri Bahwa inilah titik terakhir ku Aku lelah, Aku lelah jalani semua ini Aku muak, Muak […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Penantian seribu purnama – oleh Putri Ramadhani

Penantian… Di keheningan dalam kegelisahan… Kutunggu tak kunjung tiba… Janji yang kau janjikan… Menunggu seribu purnama… Tak kunjung datang…. Lelah…lelah…lelah Lelah ku menunggu… Sampai kapan purnama itu datang kembali… Agar kau kembali… Kedalam istana cinta… Khalayan demi khayalan… Terus terbenak dalam fikiran ku… Menanti sang belahan jiwa datang… Untuk mempersunting ku… Kecewa…kecewa…kecewa Seribu purnama telah […]
Baca puisi selengkapnya…