Satu Terbelunggu – oleh Lulu Meilinda Mulyono

Duri pahit selimuti hati Mendung pagi memeluk hari Jurang itu mengikat nadi Menekik lalu perlahan mati Terdiam seribu malam Meringkuk memeluk kelam Angin berkelok sibuk menghujam Sisa kenangan yang dipaksa bungkam Kamu lekat di pelupuk mata Seribu hari luka menganga Katakan saja ini tak nyata Bila kamu tak ada rasa Berjalan katakan cinta pada hawa […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Untuk Kamu – oleh Waffa Mutia Mutafannin

Siapa kamu? Berharap kabar darinya? Baginya kamu mungkin hanya benalu Dan sebagian dari masa lalu Cukup, Jangan terlalu lugu Berdiri dengan sendu Hingga tak sadar, kamu telah lama menunggu Jangan, Jangan terlalu berharap pada waktu Karna mungkin kamu tak tahu Kemana waktu akan membawamu Kamu lugu Semua itu hanya masa lalu Yg mungkin telah lekang […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Masa Silam – oleh Khotimatul Khusna

Dalam heningnya malam. Pikiranku melayang ke masa silam. Terputar kenangan indah yang tersimpan dalam ingatan. Tak terasa mutiara-mutiara indah pun meluncur bebas. Meluncur bebas dari pelupuk mataku. Sakit. Rasa itu. Rasa itu muncul kembali tanpa permisi. Saat kisah pahit itu terputar dalam memori. Perih. Hatiku perih seperti tersayat oleh pisau yang tajam. Saat mengingat kisah […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Pion Hitam – oleh Ailla Lavigne

Karena semua berdetak layaknya jarum jam Terus berputar dan tak akan pernah bergerak mundur Seperti pion catur yang terjebak, tak dapat bergerak Dan di sana aku berdiri tanpa jalan mundur Kalau boleh aku berkata Kalau boleh aku mencela Karena hanya pion putih yang bisa memulai Sedang kumulai semua langkahku dalam gelap Kalau boleh aku berkata […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Cerita Pendek – oleh Archie Digita

Angin dingin yang menyelimuti tubuh kita, Menguliti lebih dalam setelah kau menggoreskan cerita. Tak mungkin lagi kau terbayang Atas bayangku yang kini kian membayangimu. Yang sering ku bayangkan saat ini adalah; bagaimana cara kita mengatasi persoalan pagi dan menjawab tiap-tiap malam. Aku selalu ingat kehadiranmu mengiringi hariku. Kita membangun pagi dari pondasi ketulusan dan tiang […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Aku yang terpikat – oleh Reya Noer Reviyana

Untuk hari dan detik itu Tepat pertama kali kita bertemu Aku berucap pada sang semestaku Bahwa aku sungguh terpikat oleh mu Terpikat mata hitam yang menyayu Hai kekasih hati Aku menyesal apa kau tahu Saat tak ada kata yang terucap dari bibir ini Tidak untuk kesan pertama itu Dimana aku melabuhkan sebuah perasaan] Aku ucapkan […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Kita Pernah Bersama – oleh Ika Ratih Ayu Pratiwi

Terangkai dari kepahitan hal yang sengaja kita ceritakan Hal yang inginkan bahwa cinta tak lagi satu Dulu,kita menggambar dongeng di tepian angin Mengalirkan tawa dengan kepala di atas bahumu Mengeratkan jemari di helai benang bajumu Bercanda di balik kumis tipis yang manis Sampai saatnya kita lupa bahwa kita tak lagi bersama Dengar Bahkan melupakan segalanya […]
Baca puisi selengkapnya…