Catatan Hitam – oleh Mosdalifah

Malam ini, Sudahkah kau ganti warna hidupmu yang telah pudar? Sudahkah kau berbisik pada relung jiwamu yang redup ? Bukannya semua yang kau genggam adalah yang kau curi? Hitam milikmu, dan putih milikku Dan kita berdua adalah biru Sekarang kau tidak mau berbagi Warna indah musim hujan Atau pahit manis kehidupan Terpaksa, nostalgiaku seorang diri […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Kau Yang Telah Pergi – oleh Atha Nur Azaria

Kau yang telah pergi.. Meninggalkan sejuta kenangan pada diri ini.. Meninggalkan sebuah perasaan cinta yang tak dapat di hilangkan.. Kau yang telah pergi.. Yang masih meninggalkan sedikit harapan disini.. Yang hatinya tertinggal di hatiku.. Sadarlah kamu.. Kau tidak akan menemukan orang sepertiku diluar sana.. Sadarkah kamu.. Aku tak pernah terganti.. Sampai kapanpun itu.. Kau Yang […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Surat terakhir untuk dirinya – oleh Dion Apriandi

Kala waktu sungai mengalir Seperti itu isi hatiku Jauh kuharapkan untuk itu Hanya debu usap wajahku Sebuah tombak tertancap dihati Remukkan jiwa dan ragaku Terangkan mata hati ini Buatku terus tuk berfikir Keajaiban memang bukan segalanya Saat ku terus terang padanya Seperti tersulut api membara seperti guncangan gempa Kumemang harus pergi Dan meratapi kenyataan ini […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Inilah Takdir – oleh Nanda Arnesa

Kelabu menembus tajam dinding malam Begitu menyentak menusuk kalbu Sekuntum mawar di pelupuk mata Terkukus layu di hamparan mata telanjang Daun daun menari sendu Hembusan angin melantun pilu Tiada henti ku coba Tuk sekedar Menggauli makna Meniduri bahasa Hadirmu membawa mimpi mimpi mesra Terbangkan angan menuju dunia fatamorgana Namun… Tubuhku mulai goyah Bayang wajahmu seakan […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Dunia Kita – oleh Intan Maris Sibarani

apa yang kau lakukan sekarang itulah yang aku harapkan tapi sayang, kau melakukannya bukan kepadaku itulah dunia kita sekarang kita mempunyai tujuan yang sama sama persis tapi, kau memiliki jalan tersendiri yang tak pernah bisa aku ikuti perlahan kau menjauh dan semakin jauh terlalu sesak untuk mengikutimu haruskah aku berhenti? apakah kau akan mengajakku kembali? […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Sang Kelam – oleh Hanggi Setiawan

Segelintir debu pembawa pilu Menghias langit-langit atap rumahku Tak ada tanda yang membawa duka Hanya suara jangkrik yang terdengar merdu Namun entah mengapa seperti ragu Nafasku seolah diburu Pengelihatanku mulai terbatas Perlahan-lahan indraku seperti membenciku Tak sadar air mataku menetes Dengan kebingungan hatiku yang kosong Aku tak mengerti apa yang sedang terjadi Seakan pikiranku pun […]
Baca puisi selengkapnya…