Surat terakhir untuk dirinya – oleh Dion Apriandi

Kala waktu sungai mengalir Seperti itu isi hatiku Jauh kuharapkan untuk itu Hanya debu usap wajahku Sebuah tombak tertancap dihati Remukkan jiwa dan ragaku Terangkan mata hati ini Buatku terus tuk berfikir Keajaiban memang bukan segalanya Saat ku terus terang padanya Seperti tersulut api membara seperti guncangan gempa Kumemang harus pergi Dan meratapi kenyataan ini […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Inilah Takdir – oleh Nanda Arnesa

Kelabu menembus tajam dinding malam Begitu menyentak menusuk kalbu Sekuntum mawar di pelupuk mata Terkukus layu di hamparan mata telanjang Daun daun menari sendu Hembusan angin melantun pilu Tiada henti ku coba Tuk sekedar Menggauli makna Meniduri bahasa Hadirmu membawa mimpi mimpi mesra Terbangkan angan menuju dunia fatamorgana Namun… Tubuhku mulai goyah Bayang wajahmu seakan […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Dunia Kita – oleh Intan Maris Sibarani

apa yang kau lakukan sekarang itulah yang aku harapkan tapi sayang, kau melakukannya bukan kepadaku itulah dunia kita sekarang kita mempunyai tujuan yang sama sama persis tapi, kau memiliki jalan tersendiri yang tak pernah bisa aku ikuti perlahan kau menjauh dan semakin jauh terlalu sesak untuk mengikutimu haruskah aku berhenti? apakah kau akan mengajakku kembali? […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Sang Kelam – oleh Hanggi Setiawan

Segelintir debu pembawa pilu Menghias langit-langit atap rumahku Tak ada tanda yang membawa duka Hanya suara jangkrik yang terdengar merdu Namun entah mengapa seperti ragu Nafasku seolah diburu Pengelihatanku mulai terbatas Perlahan-lahan indraku seperti membenciku Tak sadar air mataku menetes Dengan kebingungan hatiku yang kosong Aku tak mengerti apa yang sedang terjadi Seakan pikiranku pun […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Luka – oleh Hery Paju

Aku diam tak berkata Menahan murka karena cinta Cintaku yang suci, kini menjadi luka Langkah kaki tak terarah Sesal di hati pun semakin membara Seandainya dulu rasa itu tak ada Mungkin luka ini takan ku rasa Kini ku diam Kini ku terjembem Hatiku riuh, tersa di tikam Oleh busur cinta yang tajam Hanya air mata […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Cinta ini salah – oleh Latifani Nurnaina Sagista

Aku tak tahu pasti kapan Cinta ini telah hadir. Seperti setiap orang yang bertanya, kapan detik kehidupan ini dimulai. Yang ku tahu kini hanya Cinta yang salah. Ya… Cintaku telah salah. Aku mencintai hati yang telah termilik.. Oh Tuhan.. Ku mohon beri petunjukmu. Aku sudah cukup lelah untuk memilih. Haruskah aku bertahan dalam cinta yang […]
Baca puisi selengkapnya…