Tear of Sadness – oleh Jonathan Steven

I can’t forget that memories… You are my precious… Up until now… Days before we met… Are gloomy days… And days after we met… Are beautiful days… They were the best gifts I’ve ever had… As my heart, the best gift I can give to you… Now, we’ve gone on our own way… Leaving our […]
Baca puisi selengkapnya…

 

PUTIH – oleh Siha Muflikhah

terbayang senyum indahmu diujung senja nan syahdu saat itu pelangi pengobat rindu tlah mendekap kepiluan di dada namun kini tlah musnah tiada satu senyumpun tampakan mukanya pelangi itu pergi pergi tuk selamanya ketika awan putih selimutinya dengan dua beberapa tali pengikatnya “tidakkk…tak boleh…” teriakku ketika pelangi itu menghilang ditelan tanah yang megah hanya taburan bunga […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Catatan Hitam – oleh Mosdalifah

Malam ini, Sudahkah kau ganti warna hidupmu yang telah pudar? Sudahkah kau berbisik pada relung jiwamu yang redup ? Bukannya semua yang kau genggam adalah yang kau curi? Hitam milikmu, dan putih milikku Dan kita berdua adalah biru Sekarang kau tidak mau berbagi Warna indah musim hujan Atau pahit manis kehidupan Terpaksa, nostalgiaku seorang diri […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Kau Yang Telah Pergi – oleh Atha Nur Azaria

Kau yang telah pergi.. Meninggalkan sejuta kenangan pada diri ini.. Meninggalkan sebuah perasaan cinta yang tak dapat di hilangkan.. Kau yang telah pergi.. Yang masih meninggalkan sedikit harapan disini.. Yang hatinya tertinggal di hatiku.. Sadarlah kamu.. Kau tidak akan menemukan orang sepertiku diluar sana.. Sadarkah kamu.. Aku tak pernah terganti.. Sampai kapanpun itu.. Kau Yang […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Surat terakhir untuk dirinya – oleh Dion Apriandi

Kala waktu sungai mengalir Seperti itu isi hatiku Jauh kuharapkan untuk itu Hanya debu usap wajahku Sebuah tombak tertancap dihati Remukkan jiwa dan ragaku Terangkan mata hati ini Buatku terus tuk berfikir Keajaiban memang bukan segalanya Saat ku terus terang padanya Seperti tersulut api membara seperti guncangan gempa Kumemang harus pergi Dan meratapi kenyataan ini […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Inilah Takdir – oleh Nanda Arnesa

Kelabu menembus tajam dinding malam Begitu menyentak menusuk kalbu Sekuntum mawar di pelupuk mata Terkukus layu di hamparan mata telanjang Daun daun menari sendu Hembusan angin melantun pilu Tiada henti ku coba Tuk sekedar Menggauli makna Meniduri bahasa Hadirmu membawa mimpi mimpi mesra Terbangkan angan menuju dunia fatamorgana Namun… Tubuhku mulai goyah Bayang wajahmu seakan […]
Baca puisi selengkapnya…