Beranda » Puisi perjuangan » Bertutur Malu – oleh Agung Ardianto

Bertutur Malu – oleh Agung Ardianto

Advertisement

setangkai kematian ku petik di janin hari.
aku adalah pedang di tangan peladang.
tuhanku adalah getah dan darah.
ibuku adalah batu.
mengasihi dengan diam membisu.
ayahku adalah api.
mengajari aku menari.

terkadang di bawah bantal penuh sperma aku tinggal.
mendengar khotbah istri-istri yang kemaluannya jadi neraka.
memotong leher mereka dengan sukarela.
ya, aku adalah hukum.
akulah keadilan.

di kolong meja aku berkarat.
menyaksikan laba-laba sedang sekarat.

bisa jadi kini akulah yang membunga.
menguning.
mengering.
iblis meminta datang ke ranjangnya.
menggagahi anak-anak yang kehilangan kiblat.

aspal, aku dan debu adalah saksi atas kesombongan mereka.
atas nama agama mencela agama.
aku, ibu dan ayahku memeluk masjid, gereja, kelenteng, vihara, pura.

ah, aku hanya pedang. lepas dari tangan peladang.
aku berang.
aku hilang….

Bertutur Malu – oleh Agung Ardianto
Bogor
ardigung.tumblr.com

Advertisement

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *