Beranda » Puisi Penantian » Hujan dan Malapetaka – oleh Falya Zakira

Hujan dan Malapetaka – oleh Falya Zakira

Advertisement

Langit kelabu angin menggebu
Dalam terkaku pertanda turunnya
Jutaan kristal bernilai emas
Jatuh cuma-cuma
Namun tak seorang pun mau menyeberangi pintunya
Guna sekadar memungut
Dan menatahnya bersama perhiasan mereka

Dan aku
Menerawang awang-awang di balik kungkungan tembok kayu
Di gubuk tua semata wayang
Diiringi alunan derasnya bulir-bulir itu
Yang terasa bagai alunan simfoni bertempo keras

Tubuh ini beku rasanya
Lebih beku lagi otakku
Dan lebih beku lagi masa depanku
Dan kendatipun kuatnya kutahan perasaan ini
Tetaplah ku tak berdaya
Menghadapi segala kemelut ini

Mengapakah kauterdiam, hukum karma?
Tidakkah kaulihat
Jiwa-raga terkutuk ini tergeletak bersimbah kehampaan
Mengharap kepastianmu?
Apakah karena kau terlalu ajaib bila berbuat
Atau memilih menyerahkan aku pada hukum rimba?

Padahal di luar sana
Jutaan kristal yang merintik itu
Seakan menyuarakan protes yang sama
Lewat derai ribut bersahut-sahutan mereka
Mereka ribut sebab mereka tak tahu
Harus apa
Guna menyelamatkan masa depan
Seperti halnya yang kualami saat ini

Sebagian jutaan itu
Mengalir menuju sebagaimana mestinya
Dan mengabaikan jutaan lainnya
Yang mengalir mengikis kesuburan
Berkilau kini berkeruh
Menyisakan setelempap bumi yang kerontang
Tak lagi memberi manfaat
Tak lagi menghasilkan

Dan tahukah kau hukum karma?
Seperti itulah halnya jutaan penganggur di Ibu Pertiwi
Yang kian resah kian menyusahkan yang selamat
Menanti gema takdir
Yang senantiasa mendatangkan kabar gembira
Di antara sibuknya hujan-hujan yang mendatangkan bencana

Hujan dan Malapetaka – oleh Falya Zakira
Bangkinang, Riau
facebook.com/falyafzu

Advertisement

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *