Beranda » Puisi Hati » Sajak Terakhir – oleh Ahmad Sulaemi

Sajak Terakhir – oleh Ahmad Sulaemi

Advertisement

Sang pengembara kembali dari perjalanan
Tanah dimana darah dan harga diri bersinar
Rumah sebuah suku kuno
Sang penjaga hutan
Sang penjaga tradisi

Kembali dengan setumpuk sajak
Tentang dirinya dan tekadnya
Untuk menjadi seorang yang mandiri
Seseorang yang dapat dia genggam tangannya

Dengan sebuah buku baru dan pena usang
Sang pengembara mencoba menulis sajak yang belum selesai
Sebuah kisah yang terpaksa ditunda
Karena tak berdaya melawan takdirnya

Dengan melihat mentari dia sadar
Dengan menatap bintang dia paham
Bahwa sajaknya tak akan seindah mereka
Tak akan sepadan mereka
Tak akan tak terlupakan

Sajaknya hanya goresan tinta di lembaran kertas
Yang mungkin kelak akan hilang bahkan dari ingatan penulisnya
Namun sajak ini akan ada saat ini
Saat tangan dan hati terhubung
Dan pikiran hanya bisa terpana melihatnya
Menatap dengan heran ketika baris-baris kata ditulisnya

Melalui tangan yang saat ini dikuasai hati
Tertulis sebuah ungkapan kesendirian
Jeritan sajak yang belum terselesaikan
Yang tak akan terselesaikan
Yang harus diselesaikan

Hari ini sajak ini harus diakhiri
Karena dia tidak mungkin menggenggam tangannya
Karena diri telah kalah melawan takdir

Sajak yang indah akan hilang
Kisah yang didambakan tak akan terwujud
Namun cerita tidak harus berhenti
Karena sajak ini hanyalah bagian darinya
Yang walaupun getir selalu terasa saat mengingatnya

Sebuah penyesalan seumur hidup
Akan sebuah kebodohan
Akan sebuah kesalahan
Akan sebuah ketidak berdayaan

Di ujung jalan cerita terlihat takdir menanti sang pengembara
Seolah meminta untuk mengejarnya
Memanggil bisu namanya
Menatap sendu wajahnya

Cerita ini harus terus berlanjut
Walau sang pengembara kehabisan tinta
Walalu tak ada kertas kosong lagi untuk ditulis
Karena takdir menginginkannya
Karena takdir akan mengingatnya

Dan seolah berkata :
Jadilah orang yang selalu melawanku
Jadilah orang yang sepadan denganku
Walau kau tak akan bisa menang
Walau kau tak akan bisa sepadan
Berjuanglah mengalahkanku
Berusahalah meragukanku
Sangsikan setiap keputusanku
Berpalinglah dari tatapanku

Ingatlah aku sebagai musuhmu
Yang merusak sajak-sajakmu
Yang menjatuhkanmu kedalam kesendirian

Jadilah orang yang sepadan denganku
Akhirilah sajak-sajakmu
Kejarlah aku, gapai tangan tak terlihatku
Agar bisa kujadikan perasaan sebagai matamu
Pikiran sebagai telingamu
Dan diriku sebagai hatimu
Hati yang tak bisa kau pahami
Sehingga kau benci dengan sepenuh jiwa

Cerita ini akan berlanjut
Selama masih ada tinta di pena
Selama masih ada kertas kosong di buku
Selama takdir masih ada

Akan ditulis kisah tentang seorang pengembara yang mengakhiri sajak-sajaknya
Yang menutup sajak-sajaknya
Yang melanjutkannya dengan sebuah cerita dan dialog
Antara dia dan takdirnya
—————————————————————————–

Kepada takdir yang bahkan lebih dekat dari kematian
Ku ungkap rasa benci ku padamu
Karena kamu selalu ada disampingku
Namun tak pernah dapat ku genggam tangannya

Sajak Terakhir – oleh Ahmad Sulaemi
Bogor
fb/twitter: Ahmad Sulaemi

Advertisement

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *