Beranda » Puisi Pesan » Kota seribu malam – oleh Daniel Satria Sutrisno

Kota seribu malam – oleh Daniel Satria Sutrisno

Advertisement

Simburat cahya…
Menyilaukan tatapan para pemegang malam
Di lekuk punggung kursi tua kota
Menatap datar lelaki mudah berperawakan kacau
Jemarinya menggamit sebotol bir separuh kosong
Hanya kilauwan simburat cahya jalanan yang menyamar-nyamarkan sosok putus asa ini

Gerimis mungil menghiasi redupnya pendaran lampu jalanan
Yang senantiasa menguning di sepanjang sisi jalan

Telamatilah nyanyian pohon akatsia tua yang menari di balik redupnya langit
Jangan! jangan menilik pohon tua itu saja..
Di bawah naungan pohon itu tersandar lesu anak lelaki mersik
Berhiaskan tatapan baju yang compang campingnya bukan main
Lama sudah ia murung di bawah naungan pohon yang lebih tahu keadaan kota ini jauh sebelum kerlam merayap di kota ini

Hanya gerimis mungil yang menjadi harta di balik kerlam

Hilir mudik kendaraan masih tak acuh dan pasif, dengan tawarnya malam seribuh tanya

Seorang nenek bertongkat, nampak mengulurkan tangan pada pemintas trotoar yang hilir mudik dengan berbagai ekspresi tersamar
Tak ada yang memperhatikannya

Sepasang mudah mudih saling mendekatkan bibir di tengah keramaian
Hanya malam seronoh yang menatap kebejatan ini
Sang nenek itupun risau dan terduduk lesuh dalam tangis laparnya

Para petinggi kota hanya hilir mudik menyimburatkan cahya ketidak adilan dengan setelan dasi, jas hitam, dan perut tambun mereka

Kerlip malam menjadi satu tatapan di balik nyala bola mata seekor kucing hitam
Yang tengah menembus hujan dengan geram

Kota seribuh malam hanya ada ketidak adilan di dalamnya

Kota seribu malam – oleh Daniel Satria Sutrisno
Sorong
Daniel Mentang

Advertisement

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *