Beranda » Puisi Patah Hati » Sengkuni – oleh Amalina Dwi Prasanti

Sengkuni – oleh Amalina Dwi Prasanti

Advertisement

2 jam di Raja Ampat. Tak ada polisi berdiri katanya.
Dia tak mau pulang. Datang ke karamba siang – siang.
Pucuk gunungnya Raja Ampat membeku dengan amarah sengkuni saat itu.
Budak – budaknya datang tunggu aba – aba para pandhawa dari tanah nusantara.
4 jam di Raja Ampat. Dia menghampiri urat nadi yang dia paksa patah – patah. Sakit.
Buih –buih darah terisolir dari kuku kotor karena tulis nama yang salah dipilih.
Jatuh masuk pori – pori batang jati yang terbakar hangus tersinari matahari.
6 jam dari Raja Ampat. Cinta kata bahasanya bisa menjadi air bagi panas api.
Bisa dibanggakan katanya, bisa membuat senang katanya.

Lalu sengkuni menyerah, lalu sengkuni dia telanlah.
8 jam dari Raja Ampat. Cinta kata bahasanya cerita berakhir sama putri tidur, atau cinderella.
Yang berkorbannya seperti legenda pria- pria film China.
Yang tampan dan cantiknya peranan mahabarata.
Bukan yang tokohnya sengkuni, bukan tentang sengkuni lagi.
Sepuluh jam di Raja Ampat. Sengkuni lalu pergi.
Tidak ada aba – aba dari udara, laut atau dataran rendah dan pantai.
Sengkuni tidak mau tahu arti api tanpa tungku.

Nama : Amalina Dwi Prasanti
Tempat,tanggal lahir : Yogyakarta, 18 Juni 1997
Alamat : Pepe, Pasutan, Trirenggo, Bantul

Advertisement

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *