Beranda » Puisi Rindu » Pondok Mama – oleh Muhammad Badrun

Pondok Mama – oleh Muhammad Badrun

Advertisement

Suaramu yang parau seperti rintihan doa-doa pemegang pedang setelah peperangan
tertaklukkan. Tuhan adalah hikayat yang
diceritakan hujan melalui rintik-rintik dari gerimis petang lalu, meskipun kini terang mayapada. Telinga rasul sebagai utusan tergelinding denting suaramu. Namun Tuhan hanya sebuah kekosongan di rahim-rahim
mengembun, yang tinggal abu tersapu sore sebelum gerimis. Di sekian ribu pekan, bahkan bulan, mata itu menitikkan air sunyi yang pecah dalam rindu ternafikan. Sumpah serapah
menjadi persaksian bisu malaikat mencatatkan tanpa isyarat, untuk mengakar benak menaruh patahan parau dianggap mati dalam hikayat

yang pernah ada . Tapi tidak bagi pemilik
dongeng, Tuhan berada di sarung pedang, yang mengayuh selaksa kilat menyambar, mengubah senandung kepada carut-marut perang yang
bisu kembali, di kamis putih di balik tirai,
tarian para sunbulat menggeraham menari.

Pondok Mama – oleh Muhammad Badrun
Elhied, 29 Oktober 2014.
Purwokerto

Advertisement

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *