Beranda » Puisi Hati » Tumpahan Tangis dan Luapan Hati – oleh Yuniar Ambarsari

Tumpahan Tangis dan Luapan Hati – oleh Yuniar Ambarsari

Advertisement

Bulan menyapa dengan lepaskan cahaya dari ikatan malam
Meraba tangis merasuk dalam dada
Memeras empedu dekat jantungku
Dengan meminta jantung menjadi tumbalnya
Langit semakin menghitam
Terasuk jiwa terendam lara
Kau tertawa renyah dengan kebahagiaan
Sedangkan aku ??
Aku di sini tertawa sendu tangis
Dengan kebahagiaan yang pahit bagai empedu yang sudah terperas
Aku melihat dan merasakan
Tapi aku hanya membisu dan membeku
Diam-diam aku menanggis
Dengan prasaanku dan ingatanku
Tentang mu akan ku ikat, ku buang bahkan ku musnahkan

Aku bingung antara marah dan sayang
Antara sakit dan rindu
Antara benci dan cinta
Sungguh aku ingin. .
Ingin pergi !!
Menjauh !!
Berlari !!
Terus berlari !!
Dan berlari !!
Aku terjatuh,
Jatuh dan terjauh lagi
Berlari lagi,
Lagi dan lagi
Dalam jiwa hati dan nafas ku
Tersedu sesak perih dan pedih
Aku marah !!
Aku benci !!
Namun cukuplah sudah semua ini
Dan cukup sudah pelarian ku
Aku lelah dan takkan berakhir menghindari kenyataan ini

Disini aku masih bisa berdiri
Menatap bulan dengan wajah menyingkap tangis
Aku adalah syair yang beralun mesra bersama desah angin malam
Aku adalah nada-nada yang kau titipkan kepada sapaan para bintang
Aku adalah sajak yang terpendam dalam jejak langkah sunyi
Dan aku adalah air mata yang mengalir dengan setiap tetesannya yang terbuang sia-sia bersama serpihan lara ku
Menetes di setiap luka
Perih !!
Sakit !!
Sakit dan sakit !!
Menunduk ku dalam doa
“Tuhan, aku ingin bahagia”
Air mata terus berderai
Membasahi pipiku
Aku mengeluh,mengeluh dan mengeluh kepada Tuhan

Aku bukan yang ceria, yang selalu bahagia dan tertawa
Tapi sebenarnya aku hanya seorang wanita yang berusaha menutupi air mata
Saat ada yang menorehkan luka
Tak terasa luka ini seperti di pahat
Tak terasa seperti tertusuk melebihi ribuan jarum
Aki menangis meratapi takdir
Hingga persoalan cinta sungguh aku tak mengerti

Tumpahan Tangis dan Luapan Hati – oleh Yuniar Ambarsari
Simo

Advertisement

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *