Beranda » Puisi Harapan » Seandainya takdirnya – oleh Nicma Faneri

Seandainya takdirnya – oleh Nicma Faneri

Advertisement

kerinduanku padamu membawaku dalam kesendirian. membuatku hidup dalam kehampaan. dirimu yang aku rindu kini entah kemana tinggalkan aku sendiri di sini yang telah lama kehilangan arah tujuanku. aku telah lama buta akan cintamu. sungguh ku rindukan kamu ingin ku peluk kamu saat ini. telah lama aku setia pada satu cinta. suatu cinta yang ada dalam rasa kepalsuaan tak berujung dengan pasti. tak ada hak bagiku untuk menuntut banyak hal padanya karena aku bukanlah kekasihnya, bukan siapa-siapa dalam hidupnya. aku orang lain baginya. tapi dia bagiku adalah suatu keindahan yang nyata. ”oh tuhan. apa aku telah buta?”. aku tak dapat melihat keindahan cinta yang nyata. seakan aku bagaikan sang buta yang berharap dapat melihat keindahan dunia nyata.. dan aku juga percaya pada janji tuhan. aku percaya bahwa aku mampu melalui ini semua dengan rasa syukur. pahit dan manis ini sudah menjadi rasa dalam aroma secangkir kopi di setiap pagiku.

aku bosan dengan hidup ini. begitu merumitkan dan selalu merumitkan ku. mungkin tulisanku tidak sesempurna penulis terkenal. sangat membosankan untuk di baca. namun aku tetap belajar menulis, akan aku tulis dengan apa adanya. tanpa memaksakan kehendak pena di tangan untuk menulis sebuah cerita yang sempurna. ini cerita tentang hati dan perasaan. ceritanya tidak begitu special dan tidak cukup menarik. namun aku hanya ingin menulis ini untuk belajar. belajar mengerti apa itu cinta dan kasih.
hari-hari yang aku jalani tak seindah dulu. diriku yang sekarang entah apa maunya. apa tujuan utamanya. terkadang menjadi semangat dan mengerti tujuan utamanya. terkadang menjadi tanpa arah dan patah semangat. entahlah.di setiap langkah jalan ini. hanya doa yang ku panjatkan pada sang pemberi hidup. ”ya alloh berikanlah aku kemudahan di setiap kesulitan dalam ujian yang telah engkau berikan ya alloh, tuntunlah ya robby. aku hanya ingin hidup dalam kasihmu.” amin
banyal cerita yang tak habis tentang hidup ini. ada aku, dia kamu dan mereka. kita sama. hamba tuhan yang mencari kebahagiaan dengan cra masing-masing. dan akan kembali pada sang maha pemberi hidup pada waktu yang sudah tertulis dalam kitab takdir.
aku memiliki cinta, memiliki kasih yang tumbuh dengan indah dlam hatiku. memberiku senyuman dan membuat air mata menetes membasahi pipi.
aku pernah mencintai tapi tak di hargai, pernah setia tapi di khianati, jujur tetapi di bohongi. namun ku ikhlaskan saja apa yang terjadi. semua ku jadikan cermin terbaik dalam kehidupan ini.
senja pagi, ku lihat sang mentari memunculkan sinar indahnya. cahayanya menembus dinding kaca kamarku. ku buka mataku perlahan, berjalan dengan malas menuju kamar mandi. ku tatap sesosok wajah dari cermin kecil di dinding. ku lihat sosok berwajah tak memiliki pendirian hidup. oh sungguh kasian dan malang sekali gadis ini. sesungguhnya dia bukanlah gadis yang bodoh. hanya saja ia begitu tolol dan membiarkan ke adaan membuatnya hanyaut dalam kehampaan.
cinta? j8ika aada yang bertanya padaku apa itu cinta?. aku hanya menjawab. aku tak pernah mengenal kata-kata “cinta”
aku tak pernah mengenalnya. membenci untuk mengartikannya. bagiku tak ad cinta dalam kehidupan ini. namun ketika dia datang dlam hidupku. pedomanku mengenai ”cinta” yang tak pernah ada berubah seketika. dia yang memiliki senyuman manis, dia yang sukar untuk di tebak, dia yang lebih memiliki isi dalam hatiku. dia renaldi pratama, sesosok cowok misterisu di universty kampusku. dia adalah alasan utamaku untuk semangat masuk ke kampus pada jam awal. dia yang membuat hariku indah tanpa batas, namun kami tidak mungkin bersama. mustahi untuk saling memiliki. karena dia telah di milinya. aku hanya bisa mengaguminya dari kejauhan. menatapnya dari sudut yang tak pernah ia lihat.
cinta tak harus saling memiliki. yah kata-kata itu sudah tak asing lagi di kalangan pembaca dan penulis. dan tidak asing juga bagi diriku pribadi. seandainya takdir alloh. aku harus mencintai renal tanpa harus memilikimya. semua itu akan tetap akan aku jalani denganlapang dada. aku yakin di balik semua itu da hikmah yang tersembunyi.
seperti biasa, tenam puluh menit adalah wakyu mengerjakan makalah yang sudah di tentukan oleh dosen. aku mals sekali untuk mengerjakannya. soal terlalu sulit materinya terlalu mebuat ku pusing tujuh keliling. namun seenggaknya ku sanggup bersemangat karena di samping tempat dudukku ada sesosok malaikat. renal pagi ini duduk di samping tempat dudukku. sekalipun kami tak pernah saling bicra dan menyapa, namun bahasa mata yang yang selalu tanya-jawab. alhasil ketiak bel tanda habisnya waktu, makalah sudah selesai aku kerjakan. aku tersenyum pada renal dan dia juga membalasnya dengan senyuman yang selalu ada dalam ingatanku. ”ke kantin yuk” kata renal membuatku berfikir tanpa sadar. seperti mimpi. ini pertama kalinya dia mengajak ku, dan pertama kalinya ia bicara padaku.

Seandainya takdirnya – oleh Nicma Faneri
malang
FB Nicma Faneri

Advertisement

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *