Beranda » Puisi perjuangan » Empati

Empati

Ada yang tak merasakannya, baginya Ramadhan, buka puasa, Lebaran atau Lusa biasa saja. Mengais di perempatan, berpeluh kepanasan pada siang hari. Baginya sama saja hari ini, esok, lusa, menghitung langkah untuk mengais secercah asa. Tentang sesuap nasi, yang disuapkan kepada si mungil. Yang disayanginya bagai dunia. Berpendar dalam kelindan dan kelebat hidup yang terus mengalir tanpa ampun menerpa tubuhnya yang kian renta.

Aku berharap masih ada asa yang mengenyangkan, masih ada ria yang melegakan, masih ada penawar dahaga bagi kasih, ditengah dunia yang semakin apitis. Tak menawarkan apologi dan kepastian bagi esok. Bahkan harapan saja tak berani dia gantungkan. Cukup dicantelkan semetara dalam ruang – jalanya menelusuri jalan hari ini, tapi tak cukup ruang buat esok. Esok yang mungkin siap mencambuknya lebih keras lagi tubuh rentanya.

Sampai mentari hampir tenggelam ia tetap berjalan, jeda baginya adalah ketika kembali ke peraduan dan menutup matanya sejenak untuk terbangun kemabali esok, untuk berjalan lagi mengais asa yang kian mahal dan tak terbeli oleh kasih dan kesucian jiwa.

by serpihanimaji (http://serpihanimaji.wordpress.com/2013/08/15/empati/)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *