Beranda » Puisi Harapan » Panggung Kemustahilan

Panggung Kemustahilan

Panggung kemustahilan

Ketahuilah Ini bukan puisi, bukan pula masih
Hanya sekedar suara yang tengah macet
Gagal menjadi baik dan bijak
Tak mampu bermanfaat dan memberikan manfaat,
Tak aku sesalkan waktu yang menyembelihku,
Namun kurelakan ruang yang menempatiku
Tak aku salahkan keburukan yang memperkosaku
Namun kuharapkan kebaikan dari kehamilanku,
Sungguh tak kupahami mekanisme jagad raya yang membunuhku
Larut dan lebur dalam setiap kobaran hitam yang menipu

Buatku aku bukan pohon itu, tapi gunung yang meledak-ledak
Siapapun pasti tidak akan bertanya, sebab
Gumpalan daging yang meronta meminta makan..
Diberi sahur namun tak dihidangkan buka, lepas semua
Perlahan es kutub mencair, membanjiri nafsu duniawi
Sudahkah engkau menyapa dalam umurmu, dalam hari
Lalu berapa dalam teriknya siang, berapa dalam kelamnya malam
Berapa dalam jam, berapa dalam menit, berapa dalam detik
Berapa dalam mili detik, dalam kehampaan yang tak kau waraskan

Bumi semakin beruban dan uzur, tapi Sayangnya
Kutu-kutu tak menyadari akhir dari kehidupan kepala
Sudahlah, sudah kubilang ini bukan apa
Kutanya kenapa Engkau harus sakit sehingga mencipta,
Sedang yang Kau cipta bukanlah obat tapi racun semesta
Kukira Engkau maha-tahu, sebabnya tak kutunggu jawabMu
Tak kuharapkan dan tak kutakutkan itu, dan
Bila sudah tiba masaku, aku ingin tenang dalam pangkuanMu
Tidur dan dibelai oleh jari-jari maha-lembutMu, tapi
Aku tidak pernah wajar untuk itu, tidak pernah pantas
Mustahil itu mungkin dan mungkin itu mustahil..

Tak perlu kusebut namaMu, sebab sama saja ketika kusebut namaku
Seandainya kalau mungkin, cabutlah semua nama-nama di sini
Sehingga hanya namaMulah yang terdzikirkan oleh kami
Bakarlah segala upaya lumpur kotorku, yang berjuang
Memajnunkanku dari kiblat dan sajadahku yang suci,
Seharusnya cahaya itu Kau tabur dan siram dalam hujanmu, maka
Berangkatlah penderitaanku ke maqam yang terkehendaki olehMu
Tapi logika iradahMu sungguh dalam tak bertepi,
Begitu luas tak terukur oleh alatmu sendiri, Engkau dekat
Tapi tak kutau kau dimana, aku sungguh kecil dan rendah

Kesementaraan ini membawa kesengsaraan,
Tak kulihat itu dengan mata dagingku, kegiatan pendakian ini
Terkadang harus menjemukan dan melelahkan, sebelum
Kita beristirahat di dalam lingkaran titik tranggulasi Tuhan
Manusia biasa harus terbiasa menjadi biasa dulu,
Aku harus belajar ditolak, sebelum nanti ditolak olehNya
Aku harus belajar merasakan api, dengan membakar diri
Bagian dari terbiasa untuk menjadi santapan neraka kelak
Bilang saja kalau kamu tak paham kepasrahan dan luka
Inilah sandiwara dengan durasi yang sangat panjang….

Bukan Kemewahan duniaMu yang kulaparkan,
Bukan kenikmatan surgaMu yang kuhauskan,
Tapi, Hanya keridhoan Liqo’Mu yang ku”majnun”kan…..

Puisi Karya : Dirja Wiharja
https://www.facebook.com/aiizhiier

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *