Beranda » Puisi Asa » Jangan Berhenti, Kau Matahari

Jangan Berhenti, Kau Matahari

Jangan berhenti.
Di derap yang mungkin kini telah putus satu-satu
Atau jaket yang tengah berlumuran keringat dan darah
Ketika air mata yang terlalu lelah mengalir
Jangan berhenti, jangan mengubur asa dengan bendera putih
Kau pernah berjalan di titian duri
Kemudian kau masih bisa tertawa bersama di sela deru nafas yang hampir terputus
Menikmati waktu sederhana, awan senja dengan secangkir teh hangat
Walau kau penuh keringat.
Lalu kau bercerita tentang hidup yang kau temukan seperti jarum yang merangsek untuk dicari di serpihan jerami menggunung.
Kau tersenyum, aku tertegun.
Apa waktu bisa berhenti saat itu juga?
Kau membuat segalanya seolah begitu indah
Kau hanya melihat berlian diantara kubangan lumpur
Sampai hati aku bersumpah
Di binar mata mu yang sedalam samudra, kau adalah matahari yang tak berganti oleh malam.

Jangan berhenti sekarang.
Mungkin arakan awan-awan kelabu sedang melintas
Kalau dulu, sebagaimana kau membuat ku tertawa di sela darah mu yang mengucur
Sekarang, sebagaimana ku membuat mu berjalan di sela memoar yang dulu sempat terkubur.

-Fatia Kusuma Dewi-

One thought on “Jangan Berhenti, Kau Matahari

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *