Beranda » Puisi Ibu » IBU SERIBU ANAK

IBU SERIBU ANAK

Advertisement

Sering aku bercakap dalam hening,
Tapi ada hening yang lain malam mini.
Dinding putih tak lagi menampakan ketentraman,
Yang terlihat tinggalah sedih.
Gordyn biru tak mampu perlihatkan kedamaian,
Yang terasa kegundahan tak terkira.

Andai bisa ku ubah,
Ingin rasanya jaringan kabel peralatan di ruang ini menjadi untaian akar
Tempat kita bergelantungan penuh ceria.
Andai aku mampu,
Ingin rasanya selang-selang penghantar makanan itu kuganti menjadi untaian benang
Yang bisa kau rajut menjadi selimut seperti yang pernah kau berikan waktu aku kecil.

Malam ini aku hadir disampingmu,
Sambil memegang besi pinggiran tempat tidurmu yang dingin tak terperi.
Aku teringat puluhan tahun yang silam.
Masih kusimpan dalam ingatanku, selimut putih bergaris biru yg melindungi badanku yg ringkih dari dinginnya angin malam.
Masih terpatri dalam pikiranku, ejahan pertama yg kau berikan……”Sabar”.
Masih terpahat dihatiku, ngaji pertama yg kau ajarkan…..”Shalat”.

Atap rumah yang tak seberapa luas, kau sisihkan sebagian untuk diriku agar aku tak terbuang tertelan jalanan.
Beras dan umbi yang tak seberapa didapat, kau suapkan ke mulutku dengan kasih tak bertepi.
Kau putarkan sinema tak berjudul, kau gambarkan drama tanpa babak, sebuah pelajaran tentang hidup :

“ Mun hayang peurah kudu peurih, mun hayang ngakeul kudu ngakal”

Pondok itu menjadi saksi kisah anak-anak manusia,
Yang datang dan pergi silih berganti.
Bukan hanya aku, banyak yang sebelum dan sesudahnya.
Mereka datang membawa duka, saat pergi mereka tersenyum penuh suka.
Karena aku yakin, kau telah taburkan benih sayang tak terhingga.

Bolehkah aku panggil dirimu “ Ibu “ ……???
Karena bagiku kau adalah ibukku, ya…..” Ibu seribu anak “.
Walau kau terdiam membisu, akau yakin kau sedang riuh bercakap dan bercengkrama dengan para malaikat membincangkan seribu anak-anakmu.
Ibu seribu anak,
Aku dengan seribu anak lainnya ada di sampingmu,
Berdoa dan bersimpuh pada Yang Kuasa……memohon kasih sayangNya untukmu……

Puisi ini karya : soni budiman

Advertisement

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *