Beranda » Puisi Berpisah » Pria Perkasa

Pria Perkasa

Advertisement

Lagi – lagi pagi datang mengawali hari

Mentari bersinar kemerahan penuh kehangatan

Tapi sebelum itu pria tua itu telah berdiri

Menatap bukit dimana mentari akan terbit

Pria tua itu kurus dan bungkuk

Tubuhnya mengisyaratkan dia tidak berdaya

Tapi coba kau tatap matanya

Mata yang penuh api semangat perjuangan

Perjuangan yang terasa mustahil di mata kita

Mutlak menggerakkan hati kita

Bahkan menyayat hati kita

Tapi itupun bila kau memang punya hati ?

Dia berjalan perlahan ke puncak bukit

Walau perlahan tapi penuh keyakinan, teman..

Menggenggam kuat senjata di pundaknya

Senjata untuk melawan kekejian kehidupan

Setelah sampai di punca bukit perjuangannya

Terlihat lahan yang luas dan basah

Tanah yang mengandung air pengharapan dan kehidupan

Tempat dia menggali dan menumbuhkan butir emas

Emas yang memberi dia sesuap nasi

Tapi memberi kita tenaga dan nafas kehidupan

Kehidupan yangsering membuat kita lupa

Lupa akan orang yang memperjuangkan hidup kita

Pria perkasa yang tidak butuh belas kasihmu

Tidak juga butuh omong kosongmu

Apalagi agar kau mencangkul untuknya

Pikirkanlah apa yang dia butuhkan, Teman…

Advertisement

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *