Beranda » Cinta Illahi » tiga malam dan dipertama mentari

tiga malam dan dipertama mentari

Advertisement

barakallah….
cukup rasanya ini ya Ilahi
rasanya jauh sudah hamba mengarungi
namun syukur ini bertuah

bertanda tiga malam
dunia ini nan kan terkubur
hingga dua malam lagi di atas asyr
di kisah Zakaria lagi berbunda maryam

tergambar tujuh langit di atas
hamba juga pernah belajar
tujuh langit mungkin terkadar
hamba ya ilahi apa ini dari niat hamba menutup di atas

Salam a’laika
Engkau lah Maha Mengetahui
dengan tak luput hamba syukiri
bukti janji Engkau ya Rasulullah SAW.
dari kitab suci beserta alam semesta
hamba juga siap jika hamba mengkhianati
dari hakekat hidup insani
dalam tulis ini pula hamba mohon dari sebab akibat bias rasa bual
dan kekuatan tuk hamba jalani hidup ini
terutama ya Muhammad SAW
dari pekiknya hati ini akan agama, sara, asa, lebih nan dalam gerak

(karya : dian a. noor)

Advertisement

2 thoughts on “tiga malam dan dipertama mentari

  1. MENJEMPUT RINDU DAN CINTA
    Memandang gambarmu, Mendengar suaramu..
    Serasa kau tlah kukenal begitu lama…
    Tiada Angin dan hujan…
    Seperti Kekasih yang Lama terpisahkan …
    Kembali bersua…Begitu dekat, begitu Akrab….
    Tiada jarak Untuk kita Berbagi dalam canda, Keluh dan Kesah…
    Laksana telah kurengkuh dirimu dalam Pelukku…
    Hangat, Damai , Lembut Penuh Kasih…
    Allohu Akbar…!! Ya Rahman Ya Rokhim..
    Sadarlah hamba bahwa kita Baru Saling Menyapa
    Tanpa Sua…
    Ternyata engkau di tanah Khatulistiwa….
    dan diriku tegak berdiri Mendekap hampa
    Dalam diam kukejar rindu…
    Coba Kususun agar menjadi nyata
    Berjumpa denganmu, kekasihku…

  2. adakah aku menangis?
    dimana air mata itu,
    agar kulihat apa yang dilukisnya,
    adakah aku tersenyum?
    pada siapa senyum itu,
    agar kulihat apa yang dipandangnya..

    kini segalanya hanya coretan,
    di ujung rapuh,
    perangai jiwa tak jua bersayap,
    berlari renta, kusam dan berisik..

    maukah kamu dihadapkn dengan sesuatu seperti aku?
    agar kamu tau, bahwa sungguh hal itu begitu haru untuk dinikmati!
    lelah aku,
    menjadi diri sendiri..

    bawa aku pada teriakku,
    agar tiada lagi pilu,
    buncah segala penjuru,
    dan aku masih merindu.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *