Mati Rasa – oleh Lulu Meilinda Mulyono

Kaca tilas telah pecah Berkeping sisa-sisa panah Hati tersayat terlanjur patah Darah terbeku kehilangan arah Air menyapu sisa darah tadi Tiada musik hari ini Kamu harus merasa sepi Jika jiwa tak sanggup dimaki Ambilkan kain kosong itu Isilah dengan guratan kalbu Tetapi jangan mengaharu biru Biarkan saja garisnya menyatu Lihat indahnya kepingan mawar Hati-hati durinya […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Rindu yang Terjebak – oleh Rizki Ramadhan

Tentang waktu yang matahkan ragu Kepingan itu terdengar pilu Aku di batang harap mungkin sedikit mengganggu Jauh di bawah resapan malu, aku yang terlalu Memasuki dalam lebih dalam lagi Rindu itu di himpitan antara perih dan sajak yang diam, ia berjuang Terengah haruskah menunggu ketika aku tak ada sisa untukmu Ataukah maju di saat kau […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Serangkai harapan tak berarah – oleh S Iman Mustaqim

Serangkai harapan tak berarah. Daun yang berjatuhan dikala musim berganti. Kau datang lalu pergi tinggalkan perih. Serangkai harapan tak berarah. Kau buat dirimu menjadi nyata. Nyata, Yang dulu selalu terbang dalam imajinasiku. Nyata, Yang dulu menjadi pelangi dalam duniaku. Serangkai harapan tak berarah. Seketika aku mulai bahagia dengan hadirmu. Sesaat itu pula kau kembalikan, Kembalikanku […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Bukan muslimah – oleh Yenny Anggraini

Menatap mukena dan sajadah Sungguh agama yang indah Diri ini masih jauh dari solehah Tapi mengapa ingin di bilang wah Terkadang menangis Seolah hati di iris Berdoa pada ilahi Mohon ampunan pada dosa ini Sungguh ku tak tahu lagi Ada apa pada diri inii Yang tak bisa perbaiki diri Hingga semua penyesalan datang Tiba tiba […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Teruntuk yang terindah – oleh Vita Sari

Teruntuk yang terindah disana Tak terukir hanya dengan sebuah kata, walau hanya sebuah nama tapi sangat bermakna Tak terganti hanya dengan sebuah lirik tapi tersimpan dengan rapi Ntah apa yang bisa membuatku tertahan hanya padamu Seseorang dengan sejuta pesona bahkan tak mampu mengalihkan rasaku Tapi dengan mudahnya 1 senyuman mampu membuatku terhenti sampai detik ini […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Kertas Usang Sang Dewi – oleh Anggia Murni

Lihat lah bukti betapa kejam sang waktu menancapkan jari jemarinya Lembaran kertas itu telah usang termakan waktu Memang tak lagi seputih dahulu Kala satu rangkaian huruf tertulis di atasnya Namun sang waktu cukup murah hati dengan tidak menghilangkan rangkaian kata-kata.. Hanya untuk memberi tahu dunia bahwa kertas usang itu menyimpan duka.. Sajak dari seorang dewi […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Takkan Ku Lepas – oleh Sinta Sekar Sari

Ku goreskan tinta hitam Kutulis bahagiaku Bahagiaku bersamamu Bahagiaku mengenalmu Cahaya mata yang menyejukan Belaian tangan yang menghangatkan Getaran Cinta yang ku rasakan Senyuman manis yang menghidupkan Ku ingin tua bersamamu Bersama Cinta dan kasihmu Bersama kenangan Indah dengan mu Bersama puisi-puisi indahmu Puisi yang menghanyutkan Puisi yang membuatku tersenyum Puisi yang slalu kau indahkan […]
Baca puisi selengkapnya…